Wiro Menjual Anjing

"Bapak gue nangkap anjing dalam tong sampah," kisah Wiro malam ini, "e e e e e au au au au au!!!!! anjingnya bersuara. Gue masih kecil, gue pegang anjingnya yang sudah di dalam karung. Ngamuk tendang sana-sini. Nyaris lepas. Dibawa ke kota ditawarkan ke orang-orang cina buat dijual."

"Itu waktu di Mana?"

"Waktu masih di Makassar. Ceritanya kan di sana ngontrak, trus diusir."

"Kenapa diusir?"

"Tidak bisa bayar kontrakan. Orang-orang pada nangis coy, meski keluarga gue keluarga malesin. Mungkin karena sudah lama tinggal di sana. Tapi gak tahu juga sih, itu mereka nangis sedih atau nangis bahagia."

"Gimana cerita berikutnya?"

"Cerita yang mana?" Wiro mendadak pikun.

"Tadi cerita anjing."

"Ya udah ceritanya gitu, laku, terus makan-makan." Jawab Wiro sambil sibuk pijit lap top, tapi ini sambil menghadap saya, "Itu kan gak boleh. Sudah menjual anjingnya gak boleh, trus anjingnya juga punya orang."

"Jadi?"

"Itu bukan anjing liar. Masih ada pemiliknya, meskipun berada di tempat sampah. Gak boleh kan menjual anjing punya orang."

"Oh iya ya, itu anjing kan punya orang, kenapa kalian ambil ya." renung saya.

"Pokoknya kalau sudah berada di tempat sampah, itu berarti sudah tidak ada pemiliknya." bantah Wiro. Tidak konsisten. Tadi dia mengatakan tidak boleh menjual anjing punya orang, tapi sekarang dia malah membela diri.

"Yaaah kamu, itu anjing di tempat sampah kan lagi cari makan."

Related Posts:

0 Response to "Wiro Menjual Anjing"

Post a Comment