Setting cerita di Kota Makassar. Salah satu kota besar di Sulawesi Selatan. Wiro dan Panci Butut, meski judul ini tak mewakili keseluruhan cerita, saya pakai juga biar Anda penasaran.
Semasa kuliah, supaya bebas dari biaya cost, Wiro tinggal di mesjid. Dan berkah, bukan cuma hemat yang dia dapat, bahkan mendapatkan penghasilan. Dari kerja hariannya membersihkan mesjid, menggulung dan menggelar sejadah, dia mendapatkan uang lumayan.
Tak cuma kebersihan, Wiro pun dapat tugas naik mimbar, jadi pembicara. Iya benar, Wiro bicara di depan orang, keren sekali dia, mengumumkan berapa jumlah kas mesjid sekarang, siapa khatib, siapa imam. Profesi ini tak pernah dia lupakan, terus dia ingat sampai sekarang, meskipun ya, naik mimbar sekedar buat pengumuman.
Sebagai orang kampung dengan keluarga pekerja, Wiro pun terdidik demikian. Terbiasa kerja kasar, maka tugas keberihan mesjid dia jalankan dengan tangan ringan. Gesit dan antusiasmenya ini menarik perhatian Ketua RW setempat. Maka Wiro selain mengurus mesjid, Wiro pun kemudian mendapat tawaran menjadi pemungut iuran sampah. Berjalan dari rumah ke rumah, mengetuk pintu rumah orang, menagih uang kebersihan. Lumayan, dari sekali tagihan, Wiro mendapat sepuluh persen. Jadi jika uang dapat sejuta, seratus ribu bersih masuk saku celana.
Sekali waktu Wiro laporan kepada Ustadz setempat. Dari tong sampah yang diurusnya, dia mengumpulkan banyak panci bekas. Lumayan, itu kalau dijual, bisa dapat uang banyak. Alumunium itu mahal. Pak Ustadz antusias, lalu dengan boncengan motornya, Pak Uztads mengajak Wiro mendatangi pembeli rongsokan.
Menurut kabar, bos pembeli rongsokan ini tinggal di Jalan Setapak. Maka sepanjang jalan, Pak Ustadz beberapa kali menghentikan motor, turun, kemudian bertanya kepada orang-orang, di manakah jalan setapak itu?
Tentu saja orang-orang bingung. Jalan setapak itu banyak. Orang saling melirik, maksudnya jalan setapak yang mana? Pak Ustadz juga kebingungan. Dia tahunya jalan setapak, dan tak pernah dapat kabar, sebenarnya jalan setapak yang mana?
Tentu saja orang-orang bingung. Jalan setapak itu banyak. Orang saling melirik, maksudnya jalan setapak yang mana? Pak Ustadz juga kebingungan. Dia tahunya jalan setapak, dan tak pernah dapat kabar, sebenarnya jalan setapak yang mana?
Merasa tak ada orang tahu, Pak Ustadz kembali menghidupkan motornya, dan kembali melesat di jalan raya, mencari jalan setapak, dan dia lupa kalau sebenarnya tadi motornya membonceng orang, yaitu Wiro yang sekarang ketinggalan.
Wiro sebenarnya dari tadi teriak. Ketika Pak Ustadz melesatkan motor, Wiro memanggil-manggil, "Woi tunggu!!! Woiiiii........"
Pak Ustadz tak dengar. Wiro kesal, "Woiii, ini gue ketinggalan. Sundaaaal!!"
Barisan tukang becak ramai tertawa.
Baru setelah jauh Pak Uztadz sadar, jika di boncengannya Wiro sudah tak ada. Kaget luar biasa. Ini anak ke mana. Jangan-jangan jatuh di jalan. Kembali lagi dia menapak jalan asal, bertanya kepada orang-orang adakah anak jatuh, adakah ambulan lewat, dan jelas orang-orang geleng kepala.
Setelah kembali ke tempat tadi bertanya, akhirnya dia temukan. Wiro sedang terduduk lesu di trotoar.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Kembali lagi bertanya kepada orang-orang di manakah jalan setapak? Kembali pula orang-orang kebingungan dan balik bertanya, jalan setapak mana? Lagi pula ini kota. Jalan sepakat sangat jarang.
"Mungkin maksudnya Jalan Sepakat... " celetuk seorang warga.
"Oh ya, Jalan Sepakat ada?" tanya Pak Ustadz.
"Ya, ada."
Orang-orang pun menunjukkan. Dan ketemu juga akhirnya. Pembeli rongsokan itu ada di Jalan Sepakat.
(Tidak persis sama dengan cerita sebenarnya. Tempat ditemukan dengan melihat papan nama di jalan)
(Tidak persis sama dengan cerita sebenarnya. Tempat ditemukan dengan melihat papan nama di jalan)
0 Response to "Wiro dan Panci Butut"
Post a Comment