TENTU SAJA

Aku pergi meninggalkan rumah, ke kota untuk bekerja. Otomatis, istri mengurus anak sendirian di rumah. Sejak pagi membersihkan lantai, mencuci pakaian, memasak, menyiapkan makan, mengantarkannya sekolah, kemudian siangnya, di warung berjualan, mencukil sekeping demi sekeping uang, sambil mengasuh si anak. Adalah wajar jika dia lelah, dan kejengkelan membuatnya lupa, bahwa anak sangat membutuhkan kelapangan dada, kasih-sayang, kelemah-lembutan, dan saya tidak berani menyalahkan, saat tangannya tak tahan, melakukan hal tak diharapkan: menjewer telinganya hingga menangis keras.

Tak lama setelah itu, si anak sakit panas. Cemas luar biasa padahal menjelang malam. Mau ke bidan bingung tak ada ojek bisa mengantar. Semakin malam semakin demam, dan istri saya berharap, semoga malam berlalu cepat. Namun tidak, malam larut si anak tak juga lelap. Dan ketika akhirnya lelap, tengah malam istriku saya terjaga, dibangunkan suara si anak yang bergumam, membaca basmallah, kemudian membaca surat al-ikhlash.

Masih kecil, masih tiga tahun setengah, bangun tengah malam, dalam kesunyian, sedang badannya panas membaca surat Al-Ikhlash, sungguh membuat istriku cemas. Ini kenapa, ada apakah dengan anaknya. Apakah yang bakal terjadi dengannya. Seketika istriku menyesali apa yang sudah dia lakukan.

"Tidurlah Nak!"

"Aku tidak ngantuk."

Sunyi beberapa saat, istri saya biarkan anaknya buka mata.

"Apakah mamah menyayangiku?" tanya si anak tiba-tiba.

Sebuah pertanyaan biasa, namun bagi istri saya yang sedang menyesali apa yangtelah dilakukannya, nada pertanyaan itu seakan menggugat. Maka dia jawab dengan tenggorokan tercekat. "Tentu saja... " sambil memeluknya.

Related Posts:

0 Response to "TENTU SAJA"

Post a Comment