Saya jelaskan, ini demi memenuhi tuntutan syariah. Film ini harus jadi model persinetronan Indonesia dalam masalah taat syariat. Pemeran suami istri dalam film benar-benar pasangan sah, sehingga saat terjadi sentuhan tangan dan pelukan, para muslim tidak jengah, sebab tahu pasangan itu halal bersentuhan. Begitulah saya jelaskan dengan kata-kata bernada menggurui bahkan, secara retoris, saya bertanya langsung, apakah Alisya tidak pernah belajar agama?
Sepertinya dia tersinggung berat, baper, kemudian membalas, "Jangan kira artis-artis itu orang bodoh! Mereka juga mengerti agama." Saya balas, "Ya kalau memang mengerti agama, pastinya kamu tahu, jika nanti dalam sinetron berpasangan dengan saya, segala adegan tidak halal, tahu hukumnya apa menurut syariah." Eh dia malah bertanya, "Kamu tidak mengerti profesional? Kalau memang adegannya menuntut demikian, kenapa tidak!" dan saya tetap minta maaf, dengan alasan apapun, saya tidak bisa memenuhi permintaannya.
Anda tahu kan semua cerita saya ini dusta. Jadi, tidak perlu teruskan. Hentikan. Bacaan berguna lain masih banyak. Saya tulis ini hanya menyalurkan kegilaan. Tapi, jika Anda sama gilanya dengan saya, ya silakan teruskan. Alisya kembali mengirimkan pesan yang buat saya heran, "Kamu tidak mau mendapatkan kebaikan dari dakwah? Sakinah Bersamamu dibuat berdasarkan buku bestseller Asma Nadia, isinya penuh pesan moral, kebaikan, yang pastinya akan sangat menginspirasi pasangan rumah tangga, dan jika pesan ini tersebar dengan audio visual, tentu lebih banyak lagi masyarakat mendapatkan pencerahan. Nah, jika kamu main bersama saya, tentu dari kebaikan itu terciprat?"
"Tidak Alisya, tidak bisa. Ada seribu alasan. Antara lain, saya orangnya minderan, tidak bisa berakting di depan kamera, tidak punya pengalaman. Dua, secara wajah juga kalah dibandingkan suamimu, jauh puncak gunung dari dasar laut, jauh langit dari bumi. Jadi kalau pun saya beranikan diri main, akan sangat banyak penonton kecewa. Kalau banyak penonton kecewa, banyak protes datang, banyak orang menggugat, itu berarti, mana sukses pesan bagusnya tersebar luas.
Jangan sampai itu terjadi. Itu bisa merugikan perusahaan. Selain itu ada keberatan lainnya. Kalau istri saya nonton bagaimana. Ya kalau film ini tayang hanya dalam lingkup Jakarta, tapi ini akan tayang di TV nasional, yang tentu akan sampai juga ke rumah saya. Istri menonton melihat adegan saya mesra, bagaimana nanti tanggapan dia. Rumah tangga saya bisa terguncang. Kamu mau bertanggung jawab?"
"Payah! Jadi suami kok kacangan. Masalah ya selesaikan. Masa hadapi istri saja tidak bisa. Recehan banget. Jadi suami itu berani, tenang, kuat mental, dan siap dengan berbagai masalah. Sifat sejati pemimpin harus punya. Aku juga siap jika nanti di rumahku terjadi masalah. Malu sedikitlah. Jangan sampai pria kalah dengan wanita."
Sampai sini saya heran, kenapa pandai sekali wanita pandai bicara. Dayanya berkata-kata, sepertinya ratusan kali lipat dari kemampuan pria. Ada-ada saja alasanya. Ada-ada saja argumennya. Argumen yang seringkali sukses memojokkan lawan bicara. Tapi yang lebih mengherankan itu, kenapa Alisya minta lawan mainnya saya. Alasan terkuatnya apa, dan saat pertanyaan itu saya kirimkan, ini jawaban SMS nya, "Kamu terbiasa menulis, terbiasa akrab dengan kalimat, pastinya menguasai banyak kemahiran berbahasa, aku pikir, nanti dalam banyak adegan, kamu bisa menciptakan inprovisasi tak terduga." Dan ini balasan terakhir saya, "Saya bukan penulis profesional, hanya sampah social media. Dugaanmusalah. Dan pula, inprovisasi apaan. Ini shooting sinetron Alisya, semua harus berdasar skenario. Bukan OVJ." dan SMS nya terus berhamburan.
Tidak saya jawab. Malas.
0 Response to "PERMINTAAN ALISYA SOEBANDONO YANG TIDAK BISA SAYA KABULKAN"
Post a Comment