MASIH SEPUTAR JOMBLO

"Dian, kamu ini aneh. Kelihatannya bahagia banget!" komentar Wiro. Mulut mulai ngunyah, sedang makan daging kurban.

Dian yang juga mulai buka nasi bungkus tertawa, "Ya ampun, mentang-mentang gue jomblo, sampai orang segitu herannya melihat gue bahagia. Justru yang aneh tuh Lo Wir."

Nah, nah, nah, percakapan langka nih. Perhatian saya langsung tersedot.

"Kenapa gak bahagia, apa sih yang mau Lo permasalahin." lanjut Dian, "Lo itu Wir, sebenernya tinggal ngomong. Banyak cewek komen di status Lo, tandanya mereka tuh perhatian sama Lo. Di antara mereka mungkin kamu kenal, atau pernah ketemu secara fisik, tinggal lo jujur sama mereka, tanya, lo mau nggak nikah ma gue. Gampang banget. Kamunya aja gengsian."

"Liat ni kerupuk, gue remes-remes! Dian, Jomblo dapat nasihat dari jomblo itu rasanya gak enak! Pedes. Ini makan gak pake cabe aja rasanya udah pedes."

"Gara-gara Lo nih, gue jadi nambah!" Wiro menuju ricecooker, menceduk nasi.

"Siapa tahu buku Lo nanti ada yang terbit secara mayor." kembali Dian tausiyah.

"Iya Wir,  Sakti Wibowo tuh penulis, buku-bukunya baru terbit setelah menikah." saya ikut nimbrung.

"Kok jadi teh botol gue yang gemetaran sih?"

Related Posts:

0 Response to "MASIH SEPUTAR JOMBLO"

Post a Comment