ANAK SAYA HILANG

Jika tiba-tiba anak Anda hilang dari rumah, pergi tak tahu ke mana, apa yang Anda rasakan? Apa yang Anda lakukan?

Satu hal saya rasakan: Cemas.

Pulang kampung kebagian mengasuh anak. Ibunya di warung, saya mengasuh di rumah.

Tiba waktu Ashar, saya shalat. Waktu mau shalat, Si Nai memanggil ibunya.

Saya Tanya, apakah mau ke ibu?

Dia jawab, tidak.

Saya pun mulai shalat. Saat mau sujud, karena shalat saya di ruang tamu, menghadap ke kaca ke halaman depan, tampak sekilas kelebatan anak kecil lewat di halaman, menuju ke jalan, dan terus menyusuri jalan raya entah mau ke mana.

Shalat pun jadi gelisah, sambil bertanya-tanya, itu anak mau ke mana. Masih kecil bepergian keluar jauh rumah, masih mengkhawatirkan.

Shalat pun dipercepat, namun tetap dengan memerhatikan bacaan. Dua rakaat, tahiyyat awal, tiga rakaat, empat rakaat, dan beres juga akhirnya. Tanpa Wirid, segera meninggalkan sejadah. Cepat menuju keluar, tampak pintu dari tengah rumah ke dapur terbuka, wah benar dia keluar nih...

Masuk dapur tampak lagi pintu dari dapur ke luar terbuka. Wah, dia benar-benar pergi. Ke mana lagi nih anak? Aduh.


Saya perhatikan sandalnya masih ada, tidak dibawa. Biasanya dia pergi pakai sandal, kenapa sekarang tidak. Padahal ibunya sudah membiasakan, tapi mungkin sekarang sedang malas.

Mau ke mana dia sebenarnya. Masih berbaju koko masih bersarung, saya berjalan tergesa-gesa ke jalan raya,



Mencari barangkali ada main di sana, tapi tak ada,



Terus berjalan, melihat orang di kanan kiri jalan barangkali ada yang bisa saya Tanya. Seorang tukang bakso di depan rumahnya saya sapa dan tanya, apakah melihat anak saya lewat? Dia jawab, tidak. Waduh, ini anak ke mana. Ah mungkin main di si reni teman seusianya, saya cek ke rumah Si Reni, ternyata tidak ada. Balik lagi ke jalan raya, mungkin turun menuju warung ibunya. Saya pun setengah berlari, menuruni jalan curam itu, dan tampak seorang anak sedang duduk, saya sapa, apakah ada Si Nai lewat sini. Anak itu menjawab, tidak ada.

Terus berjalan lagi sampai ke sebuah warung di mana banyak ojek dan para anak muda mangkal, saya Tanya seorang ibu, adakah si Nai lewat. Dia jawab tidak. Wah, ke mana ini anak perginya?

Ini perkampungan berlika-liku, malah ada sawah, pemakaman, kebun, dan hutan.
Sungguh saya cemas, kalau sampai hilang, ke mana saya harus mencari? Ini musibah besar, dan pasti saya yang akan disalah-salahkan. Kenapa dibiarkan pergi? Kenapa waktu shalat pintunya tidak dikunci? Mengurus anak sebentar saja tidak becus!

Waduh ke mana ini anak sebenarnya? Apa dia di rumah ya?

Kemudian saya teringat lagi sandalnya, masih ada di luar, di tepi teras, jangan-jangan ada di dalam.

Ya sepertinya dia di rumah. Dia sudah biasa ke luar pergi menggunakan sandal, jadi tak mungkin sandal dia tinggalkan. Saya pun kembali pulang, lewat samping rumah.
Pas masuk dapur, ke tengah rumah, melongok ke kamar, ternyata dia ada.


Berbaring menyamping. Sudah lelap.


Lega sekali rasanya.

Related Posts:

0 Response to "ANAK SAYA HILANG"

Post a Comment