MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING

Waktu Wiro masih di Toraja, ketika jabatannya masih pengacara, alias pengangguran banyak acara, dan kerjanya kebanyaan facebookan meski dompetnya boke, tiba-tiba sebuha inspirasi judul cerita menggedor kepalanya.

"MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING"  sebuah judul yang luar biasa. Benar-benar judul emas. Siapa pun mendengar pasti penasaran.

Dasar orang katro so selebritis, judul itu Wiro umumkan Komunitas Bisa Menulis, tapi ceritanya dia tahan. Dia umumkan, baru akan menggarap ceritanya setelah mendapatkan seratus like.

Selagi like berdatangan, hati Wiro meratap, haduuuh, semoga jangan sampai mendapatkan seratus like, sebab sebenarnya, dia belum tahu, dengan judul itu dia mau menceritakan apa. Dan menyenangkan, like-nya kurang seratus. Wiro senang, Wiro tenang, tak harus kerepotan menyusun cerita.

Berikutnya, dia kembali kepada kesibukan tidak jelasnya, jualan petasan, bolak-balik kebun buat nyiram timun, dan aktifitas terpentingnya adalah memakai sarung, telanjang dada, diam di kamar, pencet-pencet hape butut, posting tulisan di Komunitas Bisa Menulis. Dengan hape penuh keterbatasan itu berusaha menulis cerita, pendek-pendek saja. Apakah dia menulis cerita MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING? Tidak, judul itu entah sudah ke mana, lenyap dari rencana.

Bosan di Toraja, Wiro pindah ke Sinjai,  tinggal di rumah kakaknya. Baru di sini dia kerja, miara ayam. Agar si ayam cepat bertelur, Wiro buat ayam itu kumpul kebo--meski sebenarnya ini aneh, kumpul ayam kok jadi kumpul kebo--dia kurung ayam betina dengan ayam jago, setelah dikira kawin, dia lepaskan lagi sambil terus menunggu ayam itu bertelur. Satu hari belum bertelur, dua hari belum, tiga hari belum juga. Wiro heran, jangan-jangan telurnya dibuang sembarangan. Dia cari ke kebun belakang, ke depan rumah, ke samping, ke kebun orang, ke mana-mana, telurnya tak ada. Ternyata memang ayam itu belum bertelur. Sabar dia terus menunggu ayamnya bertelur, sampai si ayam benar-benar bertelur,

Selain mengurus ayam, Wiro pun mengurus kebun, menanam cabe, menyemai timun. Enam bulan bertani, beberapa kali panen, terkumpul hasil enam ratus ribu rupiah. Dari rumah kakaknya, dia sering keluyuran, berhari-hari tinggal di rumah temannya, facebookan, posting-posting tulisan, menyusun cerita, dan apakah dia menulis cerita MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING? Bukan, ide tulisan itu sudah dia lupakan.

Karena sering keluyuran, kakaknya tak suka, dan rasa tidak suka si kakak perlihatkan dalam sikap dan kata-kata. Wiro mengerti, maka dia pergi, ke Kota Makassar, menemui adiknya yang sedang kuliah sambil kerja, kemudian numpang tinggal di sana, sebagai pengangguran yang siang dan malamnya hanya habis buat main handphone, facebookan. Setiap adiknya pulang kerja, tangannnya menadah, "Dua ribu!" buat rokok.

Hingga suatu malam, tengah malam, pemilik sebuah penerbitan menanyakan kepadanya, apakah sedang membutuhkan kerja? Wiro menjawab, sedang butuh, tentu saja. Maka pemilik penerbitan itu memintanya datang ke Jakarta. Wiro pun terbang sampai di Jakarta dan betapa kesalnya dia karena ternyata Jakarta itu kota besar dengan tingkat kerumitan jalan luar biasa. Sampai tiga ratus ribu dia habiskan uang buat taksi untuk sampai di penerbitan buku, dan mulailah kerja.

Nama Perusahaan ini adalah PT. Asma Nadia yang dipimpin oleh Pak Isa, pemilik grup Komunitas Bisa Menulis yang selama ini jadi tempatnya berbagi cerita. Di sini, impian besarnya menjadi penulis dia wujudkan. Bersama teman facebooknya yang lain, dia susun kumpulan cerita koplak, masuk cetak, dan terbit. Dan sampai di sini, pastinya Anda bertanya, apakah bukunya yang terbit ini berjudul MANUSIA DAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING? Ternyata bukan, sepertinya judul itu sudah benar-benar dia lupakan. Benar-benar dia lupakan.

Terus bukunya yang terbit ini judulnya apa?

YAO-YAO-LALA, begitu nama judul bukunya yang terbit itu. Awal mula bukunya keluar, cukup menghebohkan juga. Banyak orang penasaran, kemudian membelinya. Endorsmen pun berdatangan, "Buku apaan yang kayak gini, kagak ada lucu-lucunya?" kata Pak Isa Alamsyah. "Wah bahaya nih, istri gue sedang hamil, jangan sampai dia liat buku ini, " kata Pak Aeron Tomino, adik Mbak Asma Nadia. "Entar gue beli buku kamu, setelah rupiah turun" kata Ardhan Kamal. "Saya mau difoto bersama buku kamu, asal wajah saya diburemin." ujar Dana.

Mendengar berbagai komentar itu, Wiro hanya mengurut dada. Dia berusaha sabar, dan impian besarnya ingin jadi penulis hebat tak pernah padam. Karena itu, buat mengasah keterampilannya menulis, dia membaca buku 101 dosa penulis pemula, karya Pak Isa Alamsyah. Kemudian, dalam buku itu dia membaca, dosa ke-43 seorang penulis pemula adalah, MEMAKSAKAN HAPPY ENDING, penulis pemula seringkali terjerat pemikiran bahwa semua cerita itu harus berakhir bahagia, padahal tidak seharusnya demikian. Tidak semua cerita harus berakhir bahagia. Cerita berakhir duka malah seringkali lebih mengesankan buat pembaca. Misalnya cerpen CINTA BEGITU SENJA karya ASMA NADIA, ketika editor berkebangsaan Amerika membaca, dia mengungkapkan, setelah membaca itu hatinya terasa suram. Sedih, oh betapa sedihnya.  Wiro sangat terkesan, kemudian menjadi penasaran kepada kisah CINTA BEGITU SENJA, dan menanyakan kepada temannya, di manakah cerita itu berada.

Temannya menjawab, "Di buku Emak Ingin Naik Haji,"

Beruntung sekali buku itu ada, Wiro membukanya, dan mulai membaca. Ternyata SENJA pada judul cerita itu merupakan nama tokohnya. Seketika itulah Wiro teringat kepada judul karya dia yang sudah tenggelam dimakan lupa:
MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING.

Mendengar judul itu, si teman penasaran, "Hah? Itu bagaimana ceritanya?"

"Jadi, ada seorang pria bernama MANUSIA, menikah dengan wanita bernama KANCIL, nah anaknya diberi nama KEPITING."

Related Posts:

0 Response to "MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING"

Post a Comment