Kenapa saya terus merasa cemas, padahal dalam kehidupan saya sehari-hari, apa sih yang bukan merupakan kebahagiaan? Semuanya kebahagiaan. Tidur kebahagiaan, bangun kebahagiaan, mencuci kebahagiaan, membereskan ruangan kebahagiaan, makan kebahagiaan, memasak sendiri merupakan kebahagiaan. Kerja kebahagiaan, istirahat kebahagiaan, berjalan kebahagiaan, duduk kebahagiaan, jadi sebenarnya sangat tidak layak jika saya merasakan kegelisahan.
Aduh, tapi sekarang mencuci bagi saya sedang bukan sebuah kebahagiaan. Air sedang langka, jadi sepertinya bakal kebingungan nih mencuci pakaian. Jika tidak di tempat saya tinggal, masa saya ikut mencuci di mesjid? Bagaimana jika ketahuan penjaga mesjid? Apa nanti kata orang? Terpaksa harus menunggu air mengalir dari PDAM. Tapi akankah hari ini mengalir? Sejak malam belum mengalir juga. Kemarau menjadikan air langka, sepertinya di pusat sedang kekeringan. Bagaimana jika keringnya sampai besok, sampai lusa, sampai minggu depan, apa yang bisa saya lakukan?
Cemas luar biasa! Tapi saya harus mengatasi ini.
Bagaimana caranya?
Dengan berpikir, jika semuanya lancar-lancar saja, air selalu ada dan tersedia, saya takkan pernah berpikir betapa beruntungnya air ini tersedia. Dengan langkanya air seperti sekarang, maka saya sadar saat air itu ada, itu merupakan sebuah karunia yang besar. Sebab memang sudah begitu biasanya, baru seseorang menyadari arti sesuatu setelah sesuatu itu hilang dari tangannya. Karena ketiadaan sesuatu adalah penyadaran paling mujarab, maka saya harus memandang kelangkaan air ini sebuah nikmat.
Meja berantakan?
Nikmat juga. Ini meja saya aduh berantakan sekali. Segala macam ada di sini. Botol minuman sampai dua, padahal keduanya sudah layak masuk tempat sampah. Caus sisa goreng ayam KFC, buku 101 Dosa Penulis Pemula, Novel Orizuka, Buku Catatan Hati Seorang Istri, lap top, berkas pesanan barang, Membereskannya adalah olah raga, dan menyaksikan meja rapih setelah sebelumnya berantakatakan, ini juga sebuah kenikmatan.
Apa yang bukan merupakan kebahagiaan?
Jika benar saya orang beriman, tiada satu pun yang bukan merupakan kebahagiaan. Jika saya orang beriman, tiada sesuatu pun merupakan kebaikan.
Ketika orang beriman ditanya, apa yang sudah Allah turunkan kepadamu? Mereka menjawab, kebaikan.
Pokok terpenting yang Allah turunkan adalah agama, syariat Islam. Allah menurunkan Kitab dan Rasul-Nya, dengan segala perintah dan larangan yang ada di dalamnya, maka menyikapi itu semua, orang beriman akan memandang bahwa itu semua kebaikan. Agama yang Allah turunkan adalah kebaikan. Perintah-perintah-Nya membawa kebaikan, larangan-larangan-Nya mencegah keburukan. Karenanya seorang beriman akan cinta kepada syariat yang Allah perintahkan kepadanya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "SEMUANYA KEBAHAGIAAN"
Post a Comment