"Dasar Katro" berasal dari dua kata, yaitu "Dasar" dan "Katro". Dasar berarti paling bawah, katro berarti bodoh dan kampungan. Jadi ketika digabungkan, dua kata itu menjadi sepuluh hurup dengan satus spasi.
Sudah. Tidak perlu kerut jidat. Nanti cepat tua. Itu cuma anabel: analisa gembel.
Tapi beneran, saya sedang jengkel dengan pemosting asbun. Dan ingin menyebutnya "Dasar katro!". Kalau ibaratnya kata "Dasar katro!: itu seperti sekepal tanah yang terus saya bulat-bulatkan, dari jam lima pagi sampai jam dua belas siang, dari yang asalnya lembek, sekarang sudah keras, dan tepat jam 13.00 tanah itu sudah sangat keras, lalu dengan sekuat tenaga, kepalan tanah itu saya lemparkan ke jidat orang yang TERIAK-TERIAK MARAH MENGUTUKI PENULIS BESAR sampai nongnong.
Orang ramai mengomentari postingan dia. Pun uing mah enggak mau. Malas. Kaciri tah jalma kitu mah boga hate hasud. Tidak suka melihat orang lain beruntung teh. Manehna tidak bisa sukses, hayoh ngojok-ngojok orang lain yang sudah sukses. Teu uyahan pisan.
Kalau memang tidak suka tulisan kamu dipakai penulis besar, ayo atuh terbitin sendiri kalau memang bisa mah. Sok pake uang kamu, pake nama kamu, terus jual. Kalau memang berhasil, ya teruskan sampai kamu bener-bener sukses, tidak perlu pusingkan yang sudah-sudah. Tapi ah, saya mah pesimis karya orang seperti kamu terjual laris, ari lain dijual ka tukang gorengan mah. Dari sikap saja, kamu sudah kaciri jalma malarat.
Yeuh dengekeun nya ku ceuli katel maneh. Kalau pun benar tulisan kamu dipakai penulis besar, kemudian diterbitkan atas namanya, harusnya kamu bangga dong. Berarti tulisan kamu bagus. Kalau tidak bagus, mana mau penulis besar mengaku.
Kamu juga harusnya merasa beruntung. Selama ini kamu menulis dan tulisan kamu kurang bermanfaat, dibaca oleh hanya segelintir orang. Setelah diatasnamakan penulis besar, tulisan kamu dibaca banyak orang. Beruntung atuh, ilmu kamu bermanfaat buat sebanyak mungkin orang. Bukankah kamu menulis itu tulus buat berbagi dengan sebanyak mungkin orang? Kalau kamu masih merasa rugi padahal tulisan kamu sudah dibaca banyak orang karena yang dicantumkan di sana nama penulis lain, berarti selain buat cari materi, kamu juga nulis cuma ingin terkenal, bukan tulus hanya ingin berbagi. Dan kalau niatnya tidak tulus ingin berbagi, wah cilaka dua belas, sudah kebaikan gak dapet, materi dan popularitas juga gak dapet. Cik atuh mikir saeutik. Boloho pisan maneh mah. Kampungan. Bau hitut. Kelek haseum. Dasar tara mandi sia mah!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "DASAR KATRO MANEH MAH"
Post a Comment