"MENGAPA SUKA NULIS TENTANG AKU, APA KELEBIHANKU?" TANYA WIRO

Terinspirasi kesuksesan MENGEJAR-NGEJAR MIMPI yang ditulis Dedi Padiku, seorang Sulawesi, saya ingin menulis tentang Orang Sulawesi.

Tapi siapa yang mau saya tulis?

Dulu ada film, "Di Sini Ada...."

Nah, sekarang pun saya berkata, "Di Sini Ada Wiro", tidak perlu jauh, saya tulis saja apapun dari Wiro.

Maka menjelang malam,

"Inspirasi  apa yang kamu dapat hari ini sehingga kamu mendapatkan pencerahan?" tanya saya kepada Wiro setelah orang-orang pulang. Setelah kantor sepi, kami bisa terlibat percakapan serius tentang renungan-renungan yang mencerahkan, baik itu yang didapat dari bacaan, atau dari pengalaman keseharian.

"Apa ya? semuanya." ucap Wiro tidak jelas.

"Bagus! Sip!"  Ya memang segala hal di sekeliling kita bisa menjadi bahan renungan buat pencerahan. Tapi di antara segala hal yang mengpirasi kamu, mungkin ada yang membuatmu sangat berkesan."

Sepertinya pertanyaan saya terlalu berat, sampai-sampai Wiro menyandarkan badannya ke kursi, matanya melihat ke atas, memikirkan sesuatu, mengingat-ingat, inspirasi apa yang sangat membuatnya terkesan, "Apa ya?", masih juga belum dia temukan, sampai akhirnya, "Belum bisa menjawab sekarang."

Dekat tengah malam perbincangan berlanjut.

"Kenapa sih Dan kamu suka nulis tentang gue? Apa sih kelebihan gue?" tanya Wiro BR, merasa dirinya hebat karena selalu saya tulis.

Kalian tidak perlu mengoreksi tulisan saya. Itu memang sengaja saya ditulis BR, karena Wiro seperti ayam BR, berkembang cepat membesar, begitu juga perasasaannya, membesar cepat, tapi saya tidak rela dia bahagia, maka jawab saya,

"Kelebihah kamu adalah tidak punya kelebihan!"

"Wdduss!!!" umpat Wiro,

Tapi dalam tulisan ini saya jujur, memang ada dua alasan kenapa saya suka menceritakan Wiro dalam tulisan saya. Pertama. sebab menulis tentangnya aman. Tidak merasa terancam. Buruknya, baiknya, menyenangkan, menyebalkan, dan segala perasaan saya tentang dia apakah baik atau buruk, saya mau nyebut dia keren atau bahkan menyebutnya bikin muntah, BEBAS.

Karena memang dengan cara itulah idealnya kisah orang ditulis. Harus lengkap, lebihnya, kurangnya, pasnya, harus ada. Karena seperti kopi, takkan gurih jika dia tanpa pahit. Takkan wangi jika rasa cuma manis. Jangan hanya plusnya, minusnya pun mesti ada. Dengan cara itu, maka seorang manusia tampak jelas seabagai manusia.

Jangan seperti sebagian orang. Ada yang, saat ditulis kisah hidupnya, dia ingin jadi malaikat, yang nihil alfa, yang kosong salah. Dia ingin mengangkat nama, maka dia mau, yang ditulis prestasinya saja, kehebatannya. Tidak bisa. Alberthiene Endah, penulis profesional, tidak mau menggarap biografi orang semacam itu. Menurutnya, tidak ada manusia sempurna. Justru ketidaksempurnaan seseorang itulah ciri sempurnanya sebuah cerita.

Itu alasan pertama. Alasan berikutnya, karena Wiro kaya. Dia banyak pengalaman. Hidup di Sulawesi, sebuah pulau yang lebih besar dari Jawa, namun tingkat kerusakan alam lebih kecil, maka Wiro adalah manusia produk alam. Dia menghirup nafas perawan Toraja, bergelut dengan tanah pertanian di Sinjai, dan pernah berjalan ratusan kilometer sampai berminggu-minggu demi supaya bisa meneruskan sekolah. Menurut saya, manusia dengan pengalaman semacam ini termasuk langka.

Andrea Hirata saja sampai membangga-banggakan Lintang di Laskar Pelanginya, padahal Lintang hanya berjalan 40 km. Ini Wiro sampai berjalan ratusan kilometer, dengan waktu berminggu-minggu, melewati hutan belantara, berkelok-kelok, berliku-liku, sekali luas sekali sempit, dan yang mengerikan, dia harus menyeberangi sungai luas tanpa jembatan, harus turun, maka sepanjang perjalanan menyeberang, dia tengadah ke atas, sebab tunduk melihat ke bawah, kepala rasanya berputar melihat arus air. Benar-benar pengalaman mengerikan. Maka kehidupan Wiro---menurut saya---lebih layak buat ditulis.

Related Posts:

0 Response to ""MENGAPA SUKA NULIS TENTANG AKU, APA KELEBIHANKU?" TANYA WIRO"

Post a Comment