Cocok sekali bukan? Duduk tengah malam, sendirian, dengan musik horor sambil mambaca buku 101 Dosa Penulis Pemula.
Kenapa saya sampai membaca buku ini?
Jadi kurang lebih setengah jam sebelum ini, saya keluar, berjalan di atas mozaik batako di depan ruko, melewati samping Hotel Santika, berjalan ke pasar, menuju sebuah warung kecil di tikungan jalan, kemudian duduk di sana, sambil menikmati segigit demi segigit roti kacang. Ngobrol dengan pemilik warung yang ternyata dia sama orang Sunda. Nah, di sana kami bicara tentang Tasikmalaya dan kerusuhan yang pernah terjadi di sana, tahun 1996. Bermula dari seorang anak polisi yang suka mengaji di sebuah pesantren. Anak polisi ini mencuri uang milik santri mukim sebesar 130.000. Uang segitu tahun 1996 besar sekali, jadi sangat layak jika kemudian pesantren menghukum anak polisi ini dengan merendamnya di kolam.
Pulang ke rumah, anak polisi ini melapor kepada bapaknya, maka si bapak marah, tidak terima anaknya dihukum, karena itu dia memanggil beberapa pengurus pesantren supaya datang ke kantornya. Ketika pengurus pesantren datang ke kantor, langsung disambut dengan jambakan dan siksaan, bahkan dimaki-maki dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Penyiksaan itu menyebabkan salah seorang pengurus bernama Ustadz Mahmud mengalami cidera dan dilarikan ke rumah sakit. Berita ini segera tersiar ke seluruh Tasikmalaya, dan malah ada yang menggosipkan Ustadz Mahmud meninggal dunia akibat siksaan di kepolisian. Tentu saja banyak pesantren merasa terpanggol rasa solidaritasnya, mendengar ada salah seorang saudara mereka disiksa kepolisian sampai meninggal.
Ribuan Massa pun berkumpul di sekitar masjid agung Tasikmalaya, menggelar doa bersama, supaya masalah ini segera terselesaikan secara damai. Dalam acara ini dari pihak kepolisian tampil ke depan, menyampaikan permohonan maaf, dan supaya masalah ini diselesaikan secara baik-baik. Namun tanpa bisa ditahan, sebagian massa ada yang bergerake menuju kantor polisi dan teriak-teriak supaya pihak kepolisian meminta maaf secara terbuka, sementara ribuan massa lain bergerak menuju jalan KH. Zaenal Mustofa mengadakan perusakan dan pembakaran terhadap toko-toko China, Mall, dan gereja-gereja. Keruhan dan pengrusakan terus meluas hingga berpuluh kilometer dari Kota Tasikmalaya, hingga ke Ciawi, batas Tasikmalaya dengan Ciamis.
Baru kerusahan ini mulai bisa diredakan setelah Kiai pemilik pesantren mengumumkan lewat Radio bahwa Ustadz Mahmud belum meninggal, bahkan dia sangat sehat, dan segala berita yang beredar mengenail meninggalnya Ustadz Mahmud, itu hanyalah fitnah.
Begitulah garis besarnya cerita tentang kerusuhan di Tasikmalaya. Tapi, apa hubungan semua ini dengan buku 101 Dosa Penulis Pemula?
Hubungannya ada, yaitu, jika Anda merasa tidak nyaman membaca tulisan saya di atas, ini pasti melanggar satu, dua atau bahkan mungkin, puluhan dosa yang tertulis di buku tersebut.
0 Response to "MUSIK HOROR dan KERUSUHAN TASIKMALAYA"
Post a Comment