Buat kelengkapan tulisan, seorang penulis butuh narasumber. Saya sendiri, biasanya muncul ide tulisan setelah bercakap-cakap dengan seseorang. Lewat chatting atau pembicaraan langsung. Kadang ngobol, hingga tengah malam, kemudian mendapatkan banyak pengetahuan tentang suasana penjara dan saya tulis. Pernah juga chatting dengan seorang ibu rumah tangga beranak dua, hidupnya sejahtera, dan setelah itu jadi tahu masa lalunya, dan menjadi cerita. Tapi narasumber sepandai apapun takkan berguna jika cara mewawancarainya salah.
Untuk wawancara, Anda harus tahu ilmunya. Dan satu-satunya ilmu terbaik yang saya tahu adalah: mengosongkan diri.
Ya, sekali lagi saya katakan, jika ingin menjadi seorang pewawancara hebat, Anda harus mengosongkan diri. Buat diri Anda tidak ada. Yang ada hanyalah orang yang Anda wawancara. Dengan begitu, Anda lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Untuk wawancara, Anda harus tahu ilmunya. Dan satu-satunya ilmu terbaik yang saya tahu adalah: mengosongkan diri.
Ya, sekali lagi saya katakan, jika ingin menjadi seorang pewawancara hebat, Anda harus mengosongkan diri. Buat diri Anda tidak ada. Yang ada hanyalah orang yang Anda wawancara. Dengan begitu, Anda lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Meminjam istilah
Johnson Panjaitan--telinga harus lebih lebar dari
mulut, dan mulut harus lebih kecil dari telinga.
Dan sangat "gimana gitu" ketika mulut seorang pewawancara lebih lebar
dari telinganya--lebih banyak bicara daripada mendengar.
Video Desi Anwar tadi saya temukan, kemudian tertarik membukanya karena judul Video ini, Tips Hidup Sederhana bersama Desi Anwar. Sudah lama Desi Anwar memikat saya dengan bukunya: "Hidup Sederhana". Saya buka-buka, bahasanya segar, lancar, dan enak dibaca. Sekarang menemukan videonya langsung penasaran, ingin mendengar langsung semenarik apa kupasan dia tentang hidup sederhana.
Namun kecewa, Sarah Sechan mengajukan pengantar sangat panjang, dibumbui canda, curhat, dan jelas, itu menjengkelkan saya. Saya penasaran pada Desi Anwarnya, bukan dia, tapi Sarah Sechan terus saja bicara, bercanda, menarik perhartian, dan anehnya, penonton tertawa-tawa, membuat saya curiga, jangan-jangan tertawa mereka ini pesanan.
Saya akui, candaan Sarah Sechan sebagian menarik. Misal waktu Desi cerita pengalamannya keliling Indonesia,
"...saya pergi ke Alas Purwo. Itu salah satu taman nasional di Banyuwangi. Sudah pernah dengar belum Alas Purwo? Alas Purwo itu adalah hutan tertua di Jawa. Angker!! (sambil menabirkan tangan ke mulut, berbisik) Ada guanya."
Komentar Sarah Sechan, "Hiiih hih hih ...." meniru suara kunti. Tertawa juga saya mendengarnya. Memang banyak celetukannya yang lucu, tapi ketika kelucuan itu dia lontarkan bukan pada tempatnya, saat saya begitu penasaran kepada narasumber, candaan itu malah menjengkelkan.
Mengosongkan diri. Kemampuan ini sangat penting dikuasai.
Rasa diri bodoh membuat kita diam dan lebih banyak mendengarkan. Membuat kita memandang orang lain lebih berpengetahuan dan layak didengarkan. Kita akan memandang orang di depan kita sebagai orang penting yang harus kita hargai, dan sebagai hasilnya, kita bisa menjadi orang yang menyenangkan dalam obrolan. Jika lawan bicara itu seorang yang sangat kita butuhkan informasinya, maka dia akan sangat senang membagikan apapun yang diketahuinya kepada kita.
Saya pernah membaca sebuah buku, kecil buku itu, judulnya, "Cara Mempengaruhi Orang Lain", karya Bamar Eska. Mengesankan sekali buku itu, sampai bertahun-tahun saya masih ingat dengan judul buku dan penulisnya. Bamar menulis, tapi saya lupa persis bunyi tulisannya seperti apa, tapi kurang lebih begini dia berkata: "Sekarang ini banyak sekali monyet pintar, sudah bisa memegang senjata, banyak sekali monyet yang bisa berbuat seperti manusia. Tapi anehnya, ternyata banyak juga manusia yang berubah menjadi monyet. Saat orang lain berbicara, dia malah ikut berbicara, tidak mau mendengar."
Mengosongkan diri. Kemampuan ini sangat penting dikuasai.
Rasa diri bodoh membuat kita diam dan lebih banyak mendengarkan. Membuat kita memandang orang lain lebih berpengetahuan dan layak didengarkan. Kita akan memandang orang di depan kita sebagai orang penting yang harus kita hargai, dan sebagai hasilnya, kita bisa menjadi orang yang menyenangkan dalam obrolan. Jika lawan bicara itu seorang yang sangat kita butuhkan informasinya, maka dia akan sangat senang membagikan apapun yang diketahuinya kepada kita.
Saya pernah membaca sebuah buku, kecil buku itu, judulnya, "Cara Mempengaruhi Orang Lain", karya Bamar Eska. Mengesankan sekali buku itu, sampai bertahun-tahun saya masih ingat dengan judul buku dan penulisnya. Bamar menulis, tapi saya lupa persis bunyi tulisannya seperti apa, tapi kurang lebih begini dia berkata: "Sekarang ini banyak sekali monyet pintar, sudah bisa memegang senjata, banyak sekali monyet yang bisa berbuat seperti manusia. Tapi anehnya, ternyata banyak juga manusia yang berubah menjadi monyet. Saat orang lain berbicara, dia malah ikut berbicara, tidak mau mendengar."
Ingin jadi pewawancara hebat?
Kosongkan diri Anda!
Kosongkan diri Anda!
0 Response to "Seorang Pewawancara Hebat Itu"
Post a Comment