Menyenangkan sekali kerja di sini, seharian hanya facebookan, dan malam, sebelum tidur, saya pergi dulu ke pasar, buat nyantai, ke sebuah warung tikungan, membeli roti kacang bulat, dua ribu rupiah, duduk pada bangku, membuka plastiknya, dan menikmatinya sambil membaca baca buku.
Buku "Bochan" karya Natsume Soseki.
Tak lama kemudian, seorang pria badan montok, minta saya bergeser, lalu duduk di samping. Segelas kopi tukang warung sodorkan ke depannya. Melihat saya bawa buku, dia bartanya, "Ini buku apa?" terdengar logatnya mirip bule.
"Buku karya orang Jepang"
"Buku karya orang Jepang"
"Owh, saya jarang lihat Orang Indonesia baca buku seperti ini."
Memang benar bule tua ini. Orang Indonesia jarang yang cinta baca. Lihat saja di kereta, turis biasanya menghabiskan perjalanannya dengan membaca, dan dalam tasnya, berjejalan buku, buat cadangan kalau-kalau nanti kehabisan bacaan. Lha orang Indonesia, sepanjang jalan mulutnya tak penah berhenti makan, dan apa yang ada dalam kantongnya? sama makanan.
Tapi saya tidak bangga. Cinta baca saya bukan sebenarnya. Kelihatannya saja saya cinta baca. Sering memang buku saya bawa, tapi ini cangkang. Yang sebenarnya jarang saya baca.
Tapi saya tidak bangga. Cinta baca saya bukan sebenarnya. Kelihatannya saja saya cinta baca. Sering memang buku saya bawa, tapi ini cangkang. Yang sebenarnya jarang saya baca.
"Memang bapak orang mana?"
"Amerika."
"Ameria bagian mana?"
"California....San Fansisco"
"Wow, dekat Lembah Silicon"
"Ya?" keningnya berkerut, mungkin kurang mengerti.
"Silicon Valey!" ucap saya pakai Bahasa Inggris.
"Owh.....Silicon Valey, anak saya kerja di sana, di Google. Tahu kan Google?"
"Woww...tahu, itu kan perusahaan raksasa!"
"Yes, that is the giant..."
"Giant corporate!" saya menambahkan.
"Yes"
"Wah, bagaimana bisa anak Bapak kerja di sana?"
"Saya tidak tahu, tapi anak saya memang sebelumnya kuliah di kampus bergengsi, kalau di sini seperti UI, kemudian dia orangnya, ceria, humoris, dan pandai bicara, jadi mungkin dia lancar dalam wawancara."
"Oh ya ya!"
Kami ngobrol sambil dia sedikit demi sedikit menghirup kopinya hingga tandas. Dan bagian paling menarik dari perbincangan itu adalah Google. Anak bapak ini kerja di Google. Soal kisah dia tiga puluh tahun pernah rumah tangga dengan orang Indonesia, atau dua anaknya yang entah mirip siapa, kurang begitu penting bagi saya. Bagian perbincangan paling menarik itu googlenya. Wow bisa kerja di kantor Google bagi saya impian. Beruntung sekali anak bule ini. Saya pernah baca, kantor google dicanca buat kenyamanan karyawan. Sebagaimana logo googlenya, interior dibuat sangat kreatif dan kaya warna. Kursi unik, meja unik, bahkan tersedia kasur jika sekali-sekali karyawan ngantuk bisa langsung istirahat/tidur. Senang sekali bisa kerja di sana. Sekarang Google telah membuka cabang Indonesia. Menurut berita, jumlah karyawan masih belum banyak, artinya masih terbuka peluang buat karyawan baru.
"Kami merekrut orang-orang dengan bebagai latar belakang yang unik" ungkap Rudy Ramawy, Country Head of Google Indonesia.
Menarik tuh! Rasanya ingin melamar ke sana. Sayangnya berita ini terbit tahun 2013. Sekarang 2015, lewat dua tahun, tentu ceritanya sudah beda. Karyawan pasti sudah banyak. Lagi pula sekarang, saya sudah kerja di tempat ternyaman di dunia. Kurang nyaman apanya tempat kerja saya? Sebuah kantor penerbitan dengan jam kerja longgar. Kerja ringan hanya facebookan dan suasana ruangan, tak kalah nyaman dari kantor google. Meja mengkilat, ada kasurnya, banyak bacaan, dan bisa memasak. Dekat ke pasar baik tradisional atau swalayan, dan saya bisa dengan bebas beli apa saja, dan memilih makanana apa saja. Lalu kesejukan ruangan, jangan ceritakan lagi: full AC!!! Siang malam tanpa henti, sebab susah dimatikan.
0 Response to "Bule dan Kantor Google"
Post a Comment