Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis

Salah satu keasyikan sastra adalah, dari sebuah teks, kita bisa mengambil dan mengartikan sesuka kita, terlepas dari arti yang dimaksudkan penulisnya. Bagai menggergaji sebilah papan, mengambil sepasi, dan terserah kita pasian itu mau dibuat apa. Korek kuping, sendok, sumpit, atau mungkin ulekan. Terserah. 

Jadi kita bisa membaca sedikit, mengambilnya sebagai bahan renungan, kemudian menjadi bahan bagi tulisan dan obrolan kita sendiri.

Salah satu penulis yang dari setiap potong kalimatnya asyik dijadikan bahan renungan adalah Paulo Coelho. Sebagian sebab karyanya tersebar ke seluruh dunia dan banyak memikat orang adalah, bukan karena plotnya mendebarkan, kisahnya penuh drama, dan endingnya heboh dengan ledakan, bukan. karya dia mendunia karena dia punya kelebihan, bisa menyusun kisah dengan, nyaris setiap kalimatnya mengandung kekayaan--menarik jadi bahan renungan. Jarang orang bisa menulis begitu.

Saya mau menulis seperti itu, tapi susah. Pernah suatu ketika, Pak Isa, guru saya admin Komunitas Bisa Menulis memotivasi saya supaya semangat menulis. Dia katakan, tulisan saya punya kedalaman. Waktu itu, saya hanya menyebut "ya terima kasih Pak". Sebenarnya saya kurang begitu paham, yang dia maksud kedalaman itu apa. Setelah mengikuti workshop kepenulisan, barulah untuk pertama kalinya saya faham. Yang dia maksud mempunyai kedalaman adalah, mengandung makna yang layak direnungkan. Ah, tapi saya baca lagi tulisan saya. Ternyata tidak juga. Biasa saja. Saya kira, itu hanya cara Pak Isa memotivasi saya. 

Saya sendiri yang tahu, tulisan tidak bagus. Mana buktinya kalau tulisan saya bagus. Kalau bagus, pasti sudah jadi buku dan laris. Seperti Paulo Coelho itu, karena tulisan-tulisannya berharga, penuh kedalaman, maka orang semangat menerbitkanya sebagai buku, dan orang terus menunggu karyanya, karena mereka tahu, tulisan Paulo Coelho menarik. Misalnya ini:

Buku dia yang kini ada di tangan saya adalah, DI TEPI SUNGAI PIEDRA AKU DUDUK DAN MENANGIS. Saya buka sembarangan, 

"Aku selalu memandang sumur di tengah alun-alun itu. Dulu tak seorang pun mengetahui ada air di sana, kemudian Saint Savin memutuskan menggali dan menemukan mata air. Kalau ia tidak melakukannya, desa ini tidak akan dibangun di sini, melainkan di bawah sana, di dekat sungai."

Apa yang bisa kita renungkan dari tulisan itu?

Hanya orang-orang yang berani membuat keputusan, kemudian tekun menjalani keputusannya sampai sukses-lah yang akhirnya akan memberi manfaat bagi banyak orang. Sumur hanyalah perlambang. Sumur-sumur dalam hal lain bisa jadi sebuah ide bisnis. Saat sebuah ide bisnis datang, maka hanya orang yang memutuskan mempraktikkannya, dan dia terus mengusahakannya hingga sukses, yang akan memberi kemanfaatan bagi sebanyak mungkin orang.

Asma Nadia misalnya, setelah dia memutuskan untuk hidup sebagai penulis, dia terus tekuni keputusannya. Seperti penggali sumur, dia terus menggali sumur kepenulisannya. Hingga sedalam-dalamnya, hingga dia temukan mata air dari sana, yang jernih, yang memancar. Maka bisa kita lihat hasilnya sekarang. sebab mengandung kebaikan, kejernihan, maka tulisannya jadi mata air pengetahuan. Orang-rang menimba mata air pengetahuan dari sana karena merasa, tulisannya gurih enak dibaca rata-rata menyentuh rasa. Buku-bukunya laris dan untuk memasarkanya dia membutuhkan karyawan, jadilah lapangan kerja. 

Sebenarnya, masih panjang renungan yang ingin saya dadarkan. Tapi, terlalu luas bisa jadi malah membosankan. Seperti telur dadar, jika masak terlalu banyak malah bisa terbuang. Cukup sebutir saja. Sisanya, biar Anda sendiri yang bertelur..,eh maaf ngaco. Biar Anda sendiri baca bukunya, dan ambil langsung manfaat darinya. Bagi yang minat buku-buku Om Paulo, bisa pesan sama saya. Haha.....ujung-ujungnya iklan.

Related Posts:

0 Response to "Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis"

Post a Comment