Ayam Garam Versus Bayam

Rusak akibat salah gaul saya kira hanya berlaku buat manusia, ternyata ayam pun bisa, salah gaul bisa membuatnya rusak. Jangankan ayamnya, nama "ayam" saja, jika salah gaul bisa rusak. Misalnya kata "Ayam" gaul dengan kata "Kampus" jadi "Ayam Kampus" hasilnya ungkapan buruk. Mungkin karena tidak sepantasnya ayam masuk kampus, maka rusaklah kata "ayam" itu saat bersatu dengan kata "kampus".

Ayam itu makanan dan makanan lebih dekat ke bumbu. Barulah dia punya nama berkelas jika disatukan dengan bumbu. Disatukan dengan kata garam misalnya, jadilah menu favorit di Kota Batam: Ayam Garam. Sekarang orang-orang sana mulai mengenal menu lezat ini. Tepatnya di Restoran Zhen Bao. Kuliner ini berbahan ayam kampung dipadu rempah khusus, sehingga menghasilkan rasa special. Penyajiannya yang istimewa, daging ayam utuh dipotong-potong panjang, berwarna kekuningan karena taburan rempah, dengan hiasan sayur lalapan di sampingnya.

Luar biasanya ayam ini dimasak tanpa minyak, tapi menggunakan cara steam. Kurang tahu juga steam itu cara masak seperti apa. Istilah ini sering saya dengar di dunia cuci motor dan mobil: Steam Salju. Tapi saya tidak percaya masak ayam disamakan dengan cuci motor? Yang pasti dimasak sempurna sehingga menghasilkan daging empuk, yang lembut di lidah dan lunak dikunyah.

Waduh...merembes nih air liur membayangkannya. Sudah, nikmatmua saya sebatas ini saja. Sebatas membayangkan dan menuliskan, kemudian menyusahkan Anda para pembaca sehingga menderita, merasakan godaan selera, sedang menikmatinya langsung entah kapan. Entah akan atau takkan. Jauh sekali soalnya, harus ke Batam. Sebatas membayangkannya, sebatas itu pula saya harus merasa puas, sedang kepuasan yang nyata sekarang bagi saya adalah....

Cukup sayur bayam! Itu saja yang tersedia di dapur dan siap saya masak buat sarapan.

Tuh bayamnya numpuk di samping wastafel, sudah layu, aneh, padahal saya merendam akarnyadalam toples. Kenapa masih juga dia layu. 

Kelihatannya kurang enak. Tapi setelah dimasak, tersaji di meja, dengan bumbu racikan saya, lain lagi ceritanya. Saya bisa nambah dan terus nambah sampai kenyang. Sayuran memang punya aroma khas meski tanpa pelezat. Aromanya menggugah selera secara sudah begitu dia tercipta. Bawaan aroma alam penarik minat lidah buat mencecap dan gigi buat mengunyah, dan perut pun senang menyambutnya gembira.
Lebaikah? Terserah tanggapan Anda.
Tapi ini beneran!
Serius!
Perut butuh serat, buat pembersih usus, dan supaya pencernaan lancar dan pembuangannya pun lancar. Sebagian besar serat bisa kita dapatkan dari sayuran. Maaf jangan salah tangkap hinga Anda mengunpulkan benang kusut dari tukang jahit lalu Anda makan.

"LO PIKIR LO LUCUUUU!!!!??????"  umpat seorang yang senang sekali mementahkan humor orang lain, namun tak mau saya sebutkan namanya, takut melanggar hak cipta dan takut terjerat RUU Anti Pornografi dan pencemaran nama baik.

Jadi bukan cuma pikiran, perut pun butuh kebahagiaan. Dengan memberinya sayuran. Tidak mahal kok. Dibanding daging dan ikan, sayuran itu makanan termurah. Untuk seikat bayam cukup seribu rupiah. Lima ribu dapat sekeresek besar, cukup buat berkali-kali makan. 

Tadi pagi saya rasakan, setelah semalam konsumsi bayam, pengeluaran lancar nian. Anda terserah, mau setuju kata saya atau tidak. Jika tidak, saya hanya bisa mengucapkan selamat nyengir dan meringis-ringis merasakan kerasnya derita melahirkan si dia.

"Hekkkkkhhhhhhh aahhhh emmhhhhhhhh......!!!!!" dan yang jatuh......"Pluk!!" bulat sebesar bola pingpong....atau bentuknya bergerinjul-gerinjul seperti bengbeng. Ah, tragedi paling menyakitkan.

Mau?


Nah, jadi....

Daripada ayam tiada, bahagia yang ada saja: bayam.

Related Posts:

0 Response to "Ayam Garam Versus Bayam"

Post a Comment