Wiro dan Segala Cobaan Hidupnya

Jaman sekarang, biaya menikah mahal. Tak cukup 25 juta. Bagi sebagian pemuda, ini membuatnya jadi sungkan. Pernikahan jadi seperti gunung terjal. Sedang batinnya, tak bisa tidak, terus dilanda kegalauan.

Seperti Wiro yang kini dia sedang galau. Usia menanjak tiga puluhan, belum juga bisa menikah. Satu alasannya tidak punya biaya. Ini membuatnya insomnia. Malam-malam jadi penuh gadang. Kepada saya dia curhat,

"Dulu sebenarnya gue pernah punya rencana buat menikah. Gue kumpulin uang, dapat 80.700 rupiah, eh habis lagi dibelanjakan."

"Dibelanjakan buat apa?" tanya saya.

"Buat rokok."

Busyet dah!!

Sampai bermenit-menit temannya ngakak. Demi sebatag rokok, impian menikah dia hancurkan.

Kemarin-kemarin, sebenarnya ada wanita yang bersedia menikah dengannya. Yang menawarkan  adalah teman kerjanya. Masalah keuangan, Wiro tak perlu cemas sebab, si wanita adalah seorang pe en es, terjamin keuangan di setiap bulannya. Wajahnya cantik, beneran. Saya lihat sendiri fotonya, montok manis berwajah chubby. Namanya juga orang kaya. Tapi Wiro menolak, setelah tahu ternyata usianya 7 tahun lebih tua darinya. Jelas teman kerjanya tak suka, langsung mendatangi Wiro dan mengomelinya, "Heh Wiro, emang kamu itu ganteng apa? Ada cewek kok ditolak-tolak. So ganteng Lo. Ganteng juga enggak!"

Wiro cuma diam. Meneruskan kerja. Begitulah, satu hal yang saya kagumi darinya adalah, dia orangnya lapang dada. Dibuli sedemikian rupa dia tetap santai. Ledekan teman sekantor sudah jadi menu harian, dan dia tetap tenang, berjalan sana-sini, ngambil kopi, naik ke lantai empat, buat merokok, kembali lagi kerja, dan kadang, jika lewat di belakang teman kerja, dia sempatkan dulu memijit bahunya sambil tengadah dan nyengir. Santai dan tetap ceria, begitu karakternya. Jadinya orang tak perlu khawatir, orang tetap aman tak takut Wiro marah. Menurut saya, ini karakternya luar biasa.

Tapi kalau dia sendiri sudah ngaku-ngaku penyabar, saya suka sebel juga.

"Sebenarnya saya pengen benci sama orang, tapi susah"

Mendengar itu, saya jadi pengen muntah.

"Jarang kan orang seperti saya?" tanyanya pede sekali.

"Iya jarang," ucap saya datar.

Mendengar itu, Wiro gembira. Tapi lanjut saya, "Iya, jarang orang seperti kamu. Teman saya yang lain normal semua."

"Weddusss!!!!"

Keunikan lainnya dari dia adalah, orangnya spontanitas. Omongannya unik. Kadang saya suka merasa sayang, saat ngobrol, lalu keluar ucapan uniknya tanpa saya tuliskan. Misalnya, saat ada orang lain menghina, biasanya orang teriak:

"Jaga mulut Kamu!!!"

Wiro tidak.

Dia biasa teriak, "Jaga telingaku!!!"

Celakanya, spontanitas dia kadang jari kurang ajar. Misalnya saja waktu kopdar, Wiro kedatangan Mas Ferry Hidayat. Tamunya ini mentraktirnya makan, kemudian pamit mau pulang.

Harunya, saat mau pisah itu Wiro berterima kasih, atau minta maaf tidak bisa memberikan sambutan menggembirakan, bahkan yang ada, malah merepotkan, malah Mas Ferry yang traktir makan. Harusnya berterima kasih--eh Wiro tidak. Kepada Mas Ferry Wiro malah berkata, "Pulangnya ke kuburan?"

Kurang ajar!

Atau kepada seorang menejer di perusahaannya, sering kata-katanya kurang sopan. Misalnya, saat si menejer minta dibuatkan kopi, Wiro bersedia, tapi  menyajikannya sambil berkata, "Abi, ini obatnya diminum Abi!" Orang sekantor langsung ngakak. Wiro menganggap menejer itu orang sakit. Dan ternyata belum puas, setelah itu Wiro pun berkata, "Abi,,,Ini kursi rodanya Abi!"

Untungnya Pak Ardian--menejer itu--tidak marah, hanya senyum-senyum saja. Dan lama-lama, kemiringan Wiro dimakluminya.

Itu sih kurang parah. Spontanitas Wiro pernah sampai mencelakai kakaknya. Maaf, mungkin ini sedikit fulgar. Tapi semoga, saya masih bisa menjaga kata-kata. Jadi ceritanya si kakak buang air kecil ke sungai. Begitu Wiro melihatnya, langsung menegur sambil menyentil alat vital kakaknya.

"Wah itu sampai sakit kakak saya, sampai bengkak-bengkak."

"Hah?" saya kaget.

"Beneran!"

"Sampai bengkak itunya?"

"Iya. DI SITU KADANG SAYA MERASA SAKTI."

Ampun dah.
Bukannya menyesal. Malah bangga.

Saat lainnya, waktu Wiro menjadi karyawan Toko Buku di Makasar, bersama temannya mendapatkan tugas memasang banner dekat jembatan. Dengan sebuah bambu basah, dia dan temannya berusaha mengangkat banner itu. Wiro mengangkatnya sambil teriak-teriak tahlil, seperti orang sedang mengangkat keranda. Kemudian Wiro kebagian tugas memanjat besi jembatan, untuk menyeimbangkan banner itu dari atas. Sedang teman lainnya, menahan dari bawah, sambil berdiri di atas plat besi berukuran luas. Tanpa Wiro sadari ujung bambu bagian atas mengenai kabel PLN. Kabel itu tak ada bungkusnya. Tentu saja listriknya merambat. Teman-temannya di bawah kesetrum sampai beterbangan.

"Kamu selamat?" tanya saya.

"Gue selamat. Tapi teman gue yang di bawah itu tidak. Dua orang meninggal dunia. Itu hari paling menyebalkan Coy. Setelahnya gue dibawa ke kantor polisi, ditanya sambil dibentak-bentak"

"Gimana?"

"Kata polisi, "Hai, kamu sengaja ya mengenakan bambu itu ke kabel listrik? Kamu punya dendam kan sama teman-teman kamu?" Wah bete banget hari itu!"

Begitulah Wiro dan segala cobaan hidupnya.

Related Posts:

0 Response to "Wiro dan Segala Cobaan Hidupnya"

Post a Comment