Bisikan Upil Boim

"Ya ampun, negeri ini makin hancur saja. Merayakan lulus ujian, siswa-siswi mau mengadakan bikini party. Mau jadi apa ke depannya? Parah" tulis Boim--tokoh fiktif di social media miliknya.

Usai menulis itu, Boim terus menelusuri berita yang berhubungan dengan Bikini Party, kemudian tahu, undangannya disebar via YouTube. Berita ini dia baca di warnet. Boim mengambil paket gadang. Penasaran seperti apa undangan pesta bikini itu, Boim membuka YouTube, kemudian pada pencarian, dia menulis bikini, memijit enter, dan terbukalah deratan video yang sangat menarik matanya. Sebagai pria normal, pemandangan berbagai list video itu menggoda tangannya buat klik. Ada yang lima menit, ada yang tujuh menit. Satu persatu dia buka, ludahnya berkali-kali merembes di bawah lidahnya, berkali-kali pula dia telan. Dada kembang kempis, nafasnya menjadi cepat, dan jantung berdebar kencang. 

Setelah 15 menit, Boim kembali teringat tujuannya semula. Membuka YouTube ini ingin mencari tahu seperti apa undangan Bikini Parti itu. Maka kalimat pencariannya dia tambah menjadi "Bikini Party", dan terbuka kembali berbagai video yang menayangkan seperti apa pesta bikini itu. Satu persatu video dihabiskannya sambil terus-menerus menelan ludah dengan nafas yang semakin cepat mengimbangi debaran-debaran jantungnya, hingga beberapa video dia tonton dan bosan. 

Siangnya Boim masuk kerja, jadi tukang jahit di sebuah konveksi. Tiba jam istirahat, Boim membuka handphonenya, buka facebook, kemudian menulis di sana, "Budaya menjijikkan! Generasi kita semakin parah! Pesta bikini terang-terangan dipromosikan! Parah!"

"Ah kamu juga parah!" bisik upil di dalam hidungnya.

Related Posts:

0 Response to "Bisikan Upil Boim"

Post a Comment