Sandal Jepit Alie Isfah

Masih pagi, kantor masih sunyi, detak-detak itu terdengar dari arah tangga. Itu suara sandal Alie Isfah, sandal karet warna hijau tua dengan tali warna hitam--sandalnya yang senantiasa, jika masuk kamar mandi, harus rela tertinggal di luar, menunggu tuannya dengan setia, sabar, tak sedikit pun mengeluarkan keluhan, hingga sepasang kaki kembali memakainya, dan membawa melompat dari satu keping ubin ke ubin keping lain, terus dibawa melompat dan melompat hingga sampai ke tempat shalat. 

Ya bagi sandal, perpindahannya itu "melompat" meski bagi pemiliknya itu adalah "melangkah". Dan begitulah dia setia setiap hari, siang dan malam, menjadi alas kaki Alie Isfah ke mana-mana, ke mesjid, ke tempat Jum'atan, ke kantin, ke warung pecel lele, ke pasar, hingga tiba masanya, dia harus pensiun, setelah putus talinya, kemudian beristirahat di bawah bergelimpangannya barang-barang tak karuan di gudang lantai empat. 

Saat lewat ke sana, saya bertanya, "Sandal, apa kabar?"

"Beginilah."

"Kamu jangan sedih ya!"

"Tidak! Saya telah melakukan peran saya sebagai sandal, dengan baik, dan sekarang waktunya istirahat, ah biasa saja, tak masalah."

"Baguslah, sepertinya menjadi sandal lebih menyenangkan daripada menjadi manusia."

"Tentu saja, tapi jadi manusia pun sebenarnya tetap bisa menyenangkan, asalkan tahu ilmunya."

"Kamu tahu ilmunya?"

"Tahu."

"Apa?"

"Berserah dan ikhlash."

"Bisa kamu jelaskan?"

"Berserah itu ya berserah, tidak mengeluhkan apapun anugerah yang Allah berikan."

"Ikhlas?"

"Ikhlash itu ya berasal dari kata khalasha, artinya bersih, bersih dari segala hal selain ingat kepada-Nya."

"Apakah kamu senantiasa ingat kepada-Nya?"

"Tentu saja tidak. Aku hanya sandal yang tidak diberi otak. Tapi segala sistemku, keberadaanku, hadirku, merupakan perwujudan dari kekuasaan-Nya, dan sesungguhnya aku taat kepada-Nya, hadir sebagaimana seharusnya."

"Maaf Sandal,,,,saya kurang mengerti perkataan Anda."
"Terkadang tidak mengerti lebih baik daripada mengerti, lupakan saja. Sekarang giliran saya yang mau bertanya. Sebenarnya bagaimana sejarah saya dulunya?"

"Oh, jadi kamu ingin tahu?"

"Tentu saja."

"Saya tidak tahu sejarah sebenarnya, tapi mengingat sandal jepit biasa disebut juga Sandal Jepang, saya kira sendal jepit seperti kamu ini berasal dari Jepang."

"Kok pake saya kira, yang ilmiah dong!"

"Ini juga ilmiah, haha, saya mengambil ini dari Wikipedia."

"Ah Wikipedia..."

"Eh ini juga berdasarkan lagu."

"Bagaimana lagunya?"

"Sendal butut, sapatu butut buatan Jepang, aya warung sisi jalan rame pisan, meuli lotek diladangan ku parawan, etana endut endutan."

"Bahasa Indoensianya apa itu?"

"Sendal jelek sepatu jelek buatan Jepang, ada warung pinggir jalan ramai sekali, membeli lotek dilayani seorang perawan, ah sudahlah, ke sananya agak jorok..."

"Ah tetap tidak ilmiah."

"Dalam sejarah, Prajurit Amerika pulang ke negaranya dengan membawa oleh-oleh sandal dari Jepang. Dan semasa perang dunia kedua,"

"Trus di Amerika namanya jadi apa?"

"Tetap Sandal"

"Berarti sama dong di seluruh dunia?"

"Tidak juga...di Australia namanya Thongs, di Belanda namanya Teenslipers, di Polandia namanya Japonki, di Rumania namanya Slapi, di Venezuela namanya Cholas, sudah ah di negara lain namanya susah-susah, susah nyebutnya, susah juga nulisnya."

"Terus?"

"Terus apa lagi?"

"Apa lagi apa?"

"Apa lagi perbincangan tentang saya?"

"Sudah ah, saya mau kerja. Kamu kerjanya cari perhatian melulu..."

"Yee, siapa juga yang mulai!"

"Saya jalan dulu ya, selamat pensiun aja!"

Related Posts:

0 Response to "Sandal Jepit Alie Isfah"

Post a Comment