The Man From Nowhere


Bagian paling saya suka dari film ini adalah tokoh anaknya. Masih kecil tapi aktingnya bagus. Cerdas dia, membawakan dialog, memperlihatan ekspresi kesal, kecewa, cemas, gembira, antusias. Bisa banget dia. Tapi juga saya suka, karena anaknya manis, Chubby...duh jadi inget sama seseorang yang sudah meninggal.

Iya, beneran, peran anak ini bagus sekali. Eh, bagusnya bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dia bagus dalam beberapa adegan. Misalnya, saat si pria pemeran utama menghardiknya jangan sembunyi, anak ini keluar dari kegelapan tangga. Bajunya merah, rambutnya sebahu, mengembang, wajahnya bulat, putih, matanya sipit, kemudian membuka earphone yang menutup telinganya.



Sangat menyentuh saat tahu anak ini, seorang anak tanpa ayah, tidak dipedulikan ibunya, dan selalu diminta menjauh, dan menghabiskan waktunya dalam kesendirian. Ingin ada orang menemaninya, maka dia mengakrabkan diri kepada seorang pria pekerja pegadaian yang menginap di tempat kerjanya. Dan ini bagian paling menyentuhnya, ketika tahu ternyata pria yang dia panggil paman ini tidak mempedulikannya, dia berkata lemah, "Aku mengganggu ya?"

Bukan karena benci pria ini bersikap dingin kepada si anak, tapi masa lalunyalah yang membuatnya begitu. Di hari-hari kehamilan istrinya dan persiapannya menyambut kehadiran sang bayi, sekelompok pembunuh melindas mobilnya, istrinya meninggal, dan dia sendiri, tertembak. Dari sanalah, dia merasa hidupnya hampa, kehilangan harapan, banyak mengasingkan diri, memilih kerja di pegadaian. Dia kecewa tidak punya anak, maka anak-anak mungkin baginya, pemandangan mengecewakan.

Tadi saya sebutkan sepatu bayi. Itu salah satu adegan yang membuat saya terkesan. Sepatu bayi telah menjadi cerita sejak jaman satrawan Ernest Hemingway. "Dijual, sepatu bayi. Belum pernah dipakai", begitu dia menulis ceritanya. Sudah. Tamat. Hanya itu saja, dan cerita itu terkenal sampai sekarang, karena mengandung kedalaman, dan sepertinya, cerita singkat ini menjadi inspirasi bagi orang buat membangun kisah-kisah menyentuh tentang orang tua dan anak.


Indonesia pernah meluncurkan film "Test pack", salah satu adegannya adalah seorang istri yang berjalan perlahan memasuki toko peralatan bayi, kemudian matanya tertarik melihat sebuah kotak plastik kecil transparan tempat sepasang sepatu bayi nyaman duduk di dalam.


Dan kini, saya temukan lagi, cerita menharukan lain, "The Man From Nowhere". Tidak tahu apa arti sebenarnya. Ini perkiraan saja. Artinya adalah, "Seorang Pria Entah dari Mana."

Film Korea.

Bagaimana film ini saya temukan, awalnya ketika saya tertarik ingin nonton film korea. Namun dari koleksi film korea yang sangat banyak ditambah serial yang juga terdiri dari segmen-segmen yang banyak, jadinya bingung, waktu sempit saya rasanya tak mungkin buat nonton semuanya. Harus saya cari mana yang terbaik dari film itu, dan satu-satunya cara saya kira, langsung bertanya pada para pencintanya. 

Kebetulan, salah seorang teman kerja saya pencinta Film Korea. Takkan saya sebutkan namanya, khawatir melanggar hak cipta. Yang jelas, dia adalah seorang buronan. Saya tanyakan padanya, dari sekian banyak film korea yang sudah ditontonnnya, film apa yang paling dia suka.

"Emh apa ya" di mikir dulu. Tumben. Setelah dia menyebutkan beberapa film, akhirnya dia menyebutkan film tadi. Saking pentingnya film tadi, sampai-sampai dia menyebutkannya sambil berdiri, wajahnya mendongak ke atas, sinar lampur terpantul dari kecamatanya, "Ya ampun, itu film kece banget. Jalan ceritanya, menyentuh sekali. Pokoknya siapa pun nonton film ini pasti menangis. Gak tahu kalau Dana."

"Emh kalau saya sih....."

"Tapi nonton film itu" potongnya, "...harus kuat mental. Soalnya ada adegan kekerasan begitu, seperti mencungkil mata, darah muncrat begitu."

Mendengar itu, rasa tertarik saya jadi kurang. Terus terang, saya ngeri dengan yang begituan. Apa salahnya sih film kekerasan itu bagian kekerasannya tak usah ditampilkan. Itu cukup menteror mental. Tapi itu tidak saya ungkapkan. Takut ketahuan jika saya bermental bubur. Maka ini yang saya katakan, "Ah saya nonton Pinokio saja!"

"Enggak, Pinokio itu film seri. Panjang. Dana harus nonton film ini."

Penasaran juga.

Malamnya, setelah orang-orang pulang, saya tonton ini film dan ternyata menarik.


Related Posts:

0 Response to "The Man From Nowhere"

Post a Comment