Yang Minta Pensiun

"Untuk sekali ini, mohon jangan tolak permintaanku. Aku ingin berhenti. Aku cape. Sudah bertahun-tahun aku menjadi partner bisnismu." ucap rekening.

"Apa salah saya?"

"Tidak ada yang salah, kamu kan tahu, segala sesuatu itu ada waktunya. Ada waktunya bertemu, ada waktunya bersama, dan ada waktunya berpisah. Biasa kan, lumrah, ini kerap terjadi pada kehidupan kita."

"Beri saya alasan masuk akal!"

"Buat apa masuk akal?"

"Biar saya mengerti."

"Kenapa harus mengerti?"

"Dengan mengerti, kita bisa menerima. Menerima keadaan dan menerima ketiadaan. Dan sekarang kamu, jika bisa memberi pengertian kenapa tidak mau lagi menyertai saya, saya bisa menerima ketiadaanmu." terang saya panjang lebar.

"Baiklah, supaya kamu mengerti, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.

"Tadi saya katakan, berikan saya alasan masuk akal."

"Seperti apa alasan masuk akal itu?"

"Bukti nyata. Alasan paling masuk akal adalah bukti yang nyata. Berikan saya bukti nyata sebagai alasan kamu tidak mau lagi menyertai saya."

"Baik. Pertama, lihat bentuk aku, sudah gak karuan.




Kedua, lihat lapisan plastik sampulku, sudah terkelupas.



Ketiga, buka halaman pertama, tertera di sana tanggal 13 Februari 2013 dan sekarang, 02 Juni 2015, silakan hitung sudah berapa lama kita bersama. Sudah sangat lama. Ketiga, dan ini alasan yang tak mungkin kamu tolak, karena transaksimu terlalu banyak, halamanku sudah habis. Kemarin kamu mau mengambil uang ke bank tidak bisa, karena teller tak bisa lagi mencetak."




"Tapi saya tidak bisa menerima alasan ketiga. Kamu katakan sudah cukup lama. Baru dua tahun saja. Dua tahun itu sebentar. Orang lain malah bisa sampai puluhan tahun bersama rekening yang sama."

"Ya, tapi kamu terlalu banyak melakukan transaksi di sana. Jadi halamanku cepat habis, dan ini alasan yang takn mungkin kamu tolak."

Related Posts:

0 Response to "Yang Minta Pensiun"

Post a Comment