Dari lantai tiga, turun ke lantai dua, ruangan Wasi, saya hidung "mancung" saya mencium bau minyak wangi non alkohol. Hari-hari ini Wasi menggunakannya. Hebat, saya salut padanya, memakai wangi-wangian memang bagian dari ajaran agama, dan sekarang Wasi jadi bau "Para Ulama".
Mungkin Wasi pakai misik, saya pernah mencium wangi seperti ini, dulu, waktu kecil dari Mang Haji setiap kali dia pake sarung dan baju koko mau ke mesjid.
Mungkin Wasi pakai misik, saya pernah mencium wangi seperti ini, dulu, waktu kecil dari Mang Haji setiap kali dia pake sarung dan baju koko mau ke mesjid.
Dini hari ini, saya rasakan badan saya meriang. Mau sakit, aduh bagaimana ini menghadapinya. Saya tidak mau lagi mengalami sakit. Payah, ini kampung orang. Tak orang mengurus, tidak juga menyediakan makan.
Buat penyembuhan, hari ini saya akan mencoba puasa tanpa sahur kecuali air dan kurma. Saya pernah baca sebuah saran dari ahli pengobatan, jika sakit jangan makan. Makan pada saat sakit sama saja dengan memberi makan penyakit. Saat sakit harusnya berpuasa. Kata-kata itu saya dapatkan dari Deddy Corbuzier dalam buku OCD-nya.
Kurma pun saya ambil dari lemari, kurma yang sudah lama. Supaya steril, saya rebus beberapa saat, kemudian angkat dan piringkan. Membawanya ke meja kerja, satu persatu saya makan. Namun, setelah beberapa butir saya kunyah, mata menangkap warna asing pada itu kurma, bercak putih seperti jamur. Waduh, kurma ini sudah jamuran. Berbahayakah atau tidak ya? Tadinya saya harap makan kurma ini menjadi semacam pengobatan, karena orang lain sampai ada yang membuat sari kurma dan menjualnya sebagai obat. Tapi ini, saya malah makan kurma jamuran, apakah bisa jadi obat juga atau sebaliknya. Karena sayang, kurma jamuran ini saya habiskan.
Sampai di sini saya kembali sadar, waduh, jika hanya makan kurma jamuran, mana mungkin saya kuat, jangan-jangan perut malah dapat masalah. Sepertinya harus makan nasi juga. Tetap harus membeli lontong ke pasar. Ah, kalau begitu, berarti rencana sahur tanpa makan makanan pokok batal. Saya tetap makan nasi karena cemas.
* * *
Pagi ditidurkan, siang bangun badan lumayan segar. Mandi kemudian beberapa menit kerja, ngantuk datang, kepala pening, badan meriang. Saya tinggalkan komputer masuk kamar, kemudian Wiro melihat. Dia pegang kening saya, oh begitu perhatiannya dia. Terima kasih Wiro, tapi ucapan dia setelahnya,
"Wah ini harus masuk kost!!!" teriaknya.
"Sialan Kamu Wir!" umpat saya.
Sakit, kost, dua kata itu, bagi kami sangat menakutkan.
Bagi saya, begitu pula bagi Wiro.
Seperti dua malam kemarin Wiro yang terbaring lemah di kursi dekat dispenser, kemudian pindah ke kamar. Suaranya lesu, badannya lemah. Dia katakan, kepalanya sakit. Masuk jam kerja malam, Wiro masih terbaring lemah. Handphonenya bunyi, saya angkat.
Pak Isa memanggil.
Saya sampaikan kepada Pak Isa Wiro sedang sakit.
Mendengar itu, buru-buru Wiro bangun dan mengirim SMS kepada Pak Isa,
"Saya siap Pak!"
"Wiro," ucap saya, "Padahal gak papa Wir, kalau sakit ya terus terang saja. Biar nanti saya sampaikan kepada Pak Isa, supaya segera dicarikan kost!"
"TIDAAAAAKKKKKKKK!!!!" teriak Wiro yang masih tampak kusut, baru bangun tidur.
Eh sekarang malah saya yang meriang!
Wah tidak!
Sakit di tempat kerja seperti sini tak hanya sakit, tapi bisa sangat menyakitkan. Dan semakin kata itu menakutkan ketika disertai dengan kata "kost".
Nanti akan saya ceritakan, kenapa kata bagi kami Kost sangat menakutkan.
* * *
Bangun tidur badan segar. Sehat, meriang hilang, tidak lagi sakit kepala.
Bahagia.
Ya Allah, terima kasih ya Allah, terima kasih sudah mengasihani saya ya Allah. Terim kasih memberi kebahagiaan kepada saya Ya Allah.
Dan saya mendapatkan pelajaran.
Istirahat, itu sepertinya cara termudah penyembuhan badan. Begitu juga puasa yang saya jalankan, pasti ini mendukung pula proses penyembuhan. Maha Suci Allah. Maha Suci Allah.
Bahagia.
Ya Allah, terima kasih ya Allah, terima kasih sudah mengasihani saya ya Allah. Terim kasih memberi kebahagiaan kepada saya Ya Allah.
Dan saya mendapatkan pelajaran.
Istirahat, itu sepertinya cara termudah penyembuhan badan. Begitu juga puasa yang saya jalankan, pasti ini mendukung pula proses penyembuhan. Maha Suci Allah. Maha Suci Allah.
0 Response to "Bagi Kami, Kost Sangat Menakutkan"
Post a Comment