Tulisan ini ingin kembali mengajak Anda belajar, kepada Andrea Hirata.
Kita terbiasa mau enaknya. Jadi penulis, maunya langsung bisa. Dengan terus menulis, kemudian ingin jadi penulis hebat, dengan karya laris, MELEDUG di pasaran!!
Dan orang seperti itu, setahu saya ada tiga orang, yaitu: Saya, Saya, dan seorang lagi adalah Saya.
Dengan banyak menulis saya mengira, saya akan melahirkan karya hebat.
Produktif mungkin iya, bisa menghasilkan tulisan banyak, tapi tulisan banyak itu menumpuk, tidak berguna, jadi sampah!
Sebenarnya kurang tega menyebut sampah. Tapi begitu nyatanya, tulisan-tulisan tak berguna. Tumpukan tak berguna itu kan bahasa lain dari Sam....
Untuk menghasilkan karya hebat, berkualitas, manfaat, mengena, sampai ke hati pembaca, maaf-maaf saja, banyak nulis bukan caranya.
Para penulis hebat yang sekarang karyanya dicinta, terus ditunggu pembaca, ternyata, mereka tidak hebat dengan banyak menulis.
Mereka, menjadi hebat dengan banyak membaca.
Itulah yang mereka nasihatkan.
Dari seorang yang sedang trend saja, Andrea Hirata, saya mendapatkan pelajaran, harus banyak baca. Beberapa kali menyaksikan talkshownya, juga membaca artikel yang meliput kegiatannya, yang selalu dia tekankan, jika ingin jadi penulis, dalam arti sebenarnya penulis, seseorang harus banyak membaca.
Pada tulisan sebelumnya--kalau Anda membaca--saya pernah cerita, Feris pemeran mahar pernah curhat kepada Andrea Hirata, ingin jadi penulis katana. Maka Andrea Hirata menanyakan kesanggupannya, bisakah dalam seminggu menghabiskan 3 novel? Fersi menjawab, jangankan 3 novel, 6 novel dia bisa.
Saya kira itu percakapan selewat, namun rupanya tidak. Itu, ternyata rahasia sukses menulis Andrea Hirata. Di mana pun dia ditanya, selalu jawabannya begitu, BANYAK MEMBACA.
"Saya berkomitmen menghabiskan tiga novel setiap minggu."
Riset, begitu dia menyebut.
Dia menyebut membaca sebagai RISET.
"Banyak penulis muda menghabiskan demikian banyak waktu, 90% waktu untuk menulis, hanya 10% untuk riset. Coba itu dibalik. Sepuluh persen untuk menulis, sembilan puluh persen riset. Karena saya menerapkan itu, saya menggunakan 10% waktu saya untuk menulis, dan 90% untuk riset. Jadi ketika duduk, saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tidak mereka-reka lagi karakter ini akan diapakan, gimana dia akan bagaimana ketika saya menulis, karena sudah selesai duluan."
0 Response to "Belajar Lagi dari Andrea Hirata"
Post a Comment