Buku Novel "Rindu Maryam"

Kota di waktu siang, panas. Orang-orang termasuk saya, lebih suka tinggal di dalam, kerja sepanjang siang, pagi hingga sore, dan baru keluar, malam hari, setelah jam sembilan. Kehidupan malam lebih dinikmati orang kota daripada siang, seperti di sini, lingkungan kerja saya, kehidupan malam lebih indah dari pada siang. Awal malam, yang semarak adalah pinggiran jalan, oleh pedagang kaki lima, dengan gerai-gerai dan jualannya, ayam goreng, pecel lele, cah kangkung, nasi goreng, atau mpek-mpek.

Tapi yang paling menarik hati saya, adalah pasar. Ke sanalah saya biasanya jika malam, bersantai di warung gorengan, jajan, sambil santai membaca. Bersama novel atau bacaan apa saja, bersama benda-benda itu bersantai saya rasakan lengkap. Di tengah keramaian pasar, dan mobil sayur yang mulai berdatangan, dan beberapa orang yang menurutnkan buah, juga umbi-umbian, juga suara dangdut dari sana-sini, saya rasakan kenyamanan membaca.

*   *   *

Tangan mungil itu menyerahkan buku, novel yang pernah saya pinta seminggu lewat, yang saat itu dia tahan, dengan alasan, saya harus menyelesaikan editan. Sekarang, dia tahu editan itu selesai, novel pun dia bawa dari rumahnya dan berikan, sore hari, beberapa menit menjelang berbuka puasa. 

Terima kasih, hanya itu ucapan saya, diakhiri suku kata, dari panggilan namanya.

Adzan berkumandang, waktunya berbuka. Sendok demi sendok sirup saya suapkan, dari mangkuk kecil, di atas meja kaca bening, di kursi samping dispenser, buku itu saya pegang, buat dibaca namun, terhenti saat melihat sampulnya. Sangat lunak. Saya periksa, ternyata lucu sekali. Ini bukan sampul biasa. Dibuat dari segelnya. Cukup merobek beberapa bagian pinggir, kemudian, melipatnya ke dalam cover, dan me-lem-nya dengan solasiban. 

Kreatif! Kreatif sekali! Kreatif luar biasa. Memanfaatkan yang ada.

Tapi lama-lama saya perhatikan, pikiran menyimpulkan lain. Ini trik seorang pemalas. Malas cari sampul bagus, pakai saja plastik segel, dan malasnya makin ketahuan, saat saya tengok bagian belakangnya, masih terdapat bandrol "Buku Murah....Rp. 20.000". Bagi si buku, sungguh ini menurunkan martabat. Buku begini bagusnya dihargai murah. Saya selami perasaanya, pasti sudah lama segel itu ingin dia lepas. Saat dulu pindah tangan, dari toko ke tangan orang ini, dia gembira, sebab berharap, label murah itu, yang menjatuhkan harga dirinya, akan segera dilepas. Namun harapannya hampa. Entah berapa lama, sejak buku ini dibeli sampai sekarang, masih juga bandrol itu tertempel, di belakangnya, tumpang tindih dengan bandrol harga aslinya yang cukup mahal.

Mencari suasana bagus, saya tidak membacanya di ruang kerja. Jam sembilan malam, ke luar menuju pasar. Kemarau nan indah, langit Depok hitam kelam, sambil berjalan menuju pasar, saya tengadah, di sebelah barat bulan sepasi terang, bertabur bintang, ada dua biji, hehe. 

Masuk pasar, menuju warung tikungan, yang di depannya sampah sering teronggok. Selalu ramai orang-orang. Setelah mengambil lontong, saya duduk kursi kursi kayu panjang yang sudah berkilauan karena sering dipegang dan kena pantat. Mulai membaca. 

Novel yang sangat indah ternyata! Kalimatnya tak biasa. Lembut mendayu-dayu, seperti lagu Malaysia atau, seperti tuturan seorang darwis. Nuansa sufistik nan religi saya rasakan di setiap halaman. Rindu Mariam, begitu bunyi judulnya, terpapar dalam untaian kata-kata penuh perasaan--perasaan cinta--dari seorang hamba kepada Rabb-nya. 

"Karena cahaya hanya akan dilihat jika saja dia berada di dalam gelap. Sementara, Tuhan teramat agung dengan seluruh rahasia-Nya. Dan biarkan hidupku berkelindan dalam rahasia-Nya..."

Penuh rindu dan cinta.

Dan, nuansa rindu itu, semakin menghanyutkan tatkala mengalun musik qasidah. Seakan menjadi backsound kisah sufistik ini. Qasidah gambus, dengan iringan sitar--alat musik gemuk nan lucu namun bersuara merdu itu, berdenting-denting membawa saya kepada suasana tengah malam, ke sebuah rumah di lembah, di antara bukit bebatuan di timur tengah. Indosiar sedang mengadakan lomba qasidah.

*   *   *

Pasar, malam, buku, kota, enam bulan ini menjadi hari-hari saya.

Related Posts:

0 Response to "Buku Novel "Rindu Maryam""

Post a Comment