Mulut Bocor

Frekwensi menulis saya sekarang tidak seproduktif dulu. Dulu sehari bisa sampai sepuluh tulisan. Meski manfaatnya tak ada, tapi, banyak menulis, terasa sebuah pencapaian juga. Sekarang tidak, buat setengah lembar pun rasanya lambat. Ini dia alasannya:

Banyak pertimbangan.

Banyak hal terpikirkan sebelum mulai menulis dan mempostingnya. Kadang saya menulis, tapi disimpan saja, tidak saya posting ke blog atau sosial media.

Banyak hal saya takutkan.

Sebelumnya, apapun keluhan, terang-terangan saya ungkapkan. Tidak pernah takut, terbuka, dan tidak pernah peduli apa pun komentar orang. Sebab saat itu, sebagian besar teman social media saya jauh.

Sekarang, nyaris semua teman sekeliling orang social media. Jadi apapun postingan saya akan mereka baca. Setelah saya dapat masalah, pasti mereka sedikit menyelidiki tindak-tanduk saya, adakah yang berubah, mereka dengarkan juga kata-kata saya, bagaimana nadanya, dan saya kira, melalui social media, mereka pun baca juga status terbaru saya, karena mereka penasaran, bagaimana tanggapan saya terhadap kejadian yang baru saja menimpa saya.

Benar, terhadap kejadian itu banyak hal yang ingin saya ungkapkan, namun, karena itu tadi, banyak pertimbangan, dan banyak hal saya takutkan, seringkali ungkapan itu saya tahan, dan, saya kira lebih baik saya tahan, karena jika tidak, saya yang sudah terlanjur parah banyak bicara, bisa lebih parah lagi jika masalah batin saya bicarakan juga.

Seperti kata Tasya dalam Sinetron Sakinah Bersamamu, tidak semua hal layak dibicarakan:

"...Denger ya Tia, gak semua orang bisa terima mulut bocor Lo!"

"Mulut bocor yang kayak gimana ya? Kayaknya gue ngomong apa adanya deh."

"Iya, apa adanya sampai gak ada isinya." tukas Aisyah sambil pergi.

Karenanya, lebih baik dipendam. Atau menuliskannya, cuma buat saya sembunyikan. Bukan, ini bukan menyimpan dendam. Katakanlah ini upaya mengubur bara, biar jadi arang.

Related Posts:

0 Response to "Mulut Bocor"

Post a Comment