Sehari-semalam banyak saya habiskan di rumah toko, menjaga facebook, melayani pembelian online. Nyaman, hanya diam, main komputer, main facebook. Jelas membahagiakan, saat orang lain harus bayar supaya main facebookan, saya sebaliknya, malah dibayar. Dibanding kerja saya sebelumnya, mengajar di kelas atau bertani di sawah, sungguh kerja di sini adalah sorga.
Akan tetapi, terus-menerus duduk di depan komputer, jenuh juga. Ngantuk datang, dan kalau sudah begini, tidak bisa kerja. Saya buka tas, mengambil beberapa lembar uang dua ribuan, dan pergi ke pasar tradisional. Mau belanja bahan masakan sekalian penyegaran.
Tahu sendiri bagaimana suasana pasar tradisional, lumpur bercipratan terinjak kaki orang, dan saya yang memakai trening abu muda, harus berjalan berjingkat-jingkat.Bau juga berupa-rupa. Bau segala macam. Bau ikan, bau ayam, bau tahu, dan juga bau kencing tikus di bawah meja dan lubang-lubang, juga turut meramaikan hidung.
Tapi jangan memfokuskan ke sana, karena selain pemandangan lumpur menjijikkan, masih jauh lebih banyak pemandangan segar di mata. Ngantuk pun seratus persen hilang, ketika melihat hijau sayuran. Buncis, bayam, dan berbagai lalapan dedaunan, masih segar-segar tertata di meja terdepan. Ikan pun tak kalah indahnya. Berbaris rapi di atas meja, bandeng putih perak berkilauan, memantulkan sinar lampu di atasnya.
Bawang putih, bawang merah, bawang daun, kunir, ketumbar, muncang, pala, seledri, tomat, jeruk purut, jeruk nipis, nyaris semuanya tersedia di sini. Saya bersyukur sekali, dimudahkan dan didekatkan untuk mendapatkan apa saja sesuka saya. Mau makan apa, mau masak apa, di sini semuanya tersedia. Semuanya dimudahkan, semuanya didekatkan. Sungguh ini surga dunia. Sungguh saya tidak pernah merasakan kebahagiaan ini sebelumnya. Sungguh ya Allah, saya memohon kepada-Mu, jangan dulu Engkau buat saya seperti ayah saya, Pak Adam, yang karena dosanya, sampai harus turun dari sorga, satu tempat yang segalanya mudah dan tersedia, kepada kesulitan bumi yang sunyi, di mana nyaris segalanya membutuhkan kerja keras dan usaha. Dan bagi saya, di sini benar-benar suasana sorga. Apa yang saya butuhkan begitu dekat, sudah ada dan tersedia.
Seperti bumbu masakan, selama ini saya masak tempe tahu cukup dengan gula, garam, goreng bawang, dan terkadang penyedap, tidak tahu lagi bumbu lainnya. Tidak tahu bumbu rendang itu apa saja, tidak tahu membuat gulai itu bagaimana, apalagi bumbu kari, tidak tahu sama sekali, jadilah masakan saya hanya begini dan begini, begitu dan begitu, tidak ada perubahan, tidak ada kemajuan, tempe sambal goreng, nasi goreng, sayur tumis--suda--tak tahu lagi apa-apa.
Namun sekarang, setelah saya coba datangi tukang racik bumbu, ternyata nyaris segala resep bumbu masakan terkenal ada di sana. Jadi terserah saya mau masak apa, rendang tempe, rendang tahu, tahu bumbu kari, rendang daun singkong, gulai kambing, gulai tenggiri, gulai bandeng, buat masak apa saja tersedia, dan harganya.....harganya super murah. Hanya seribu rupiah. Bayangkan, satu kantong hanya seribu rupiah, dan bumbu segitu cukup buat satu panci masakan. Ini sangat murah dibandingkan jika belanja langsung ke warung makan. Sepuluh ribu rupiah hanya dapat apa? Tapi pagi ini, saya ke pasar, hanya dengan Rp. 4000,- (empat ribu rupiah), sudah dapat sekantong tahu lengkap dengan bumbunya.
Kembali ke tempat kerja, masak sambil tetap melayani orang belanja di toko online. Sambil menunggu air masakan susut, saya terus bolak-balik, dari kompor ke komputer, dari komputer ke kompor--trauma kejadian sebelumnya, beberapa hari kemarin, saya masak sayur dengan hasil luar biasa: SAYUR RASA ARANG.
Segitu dulu, maaf judulnya gak nyambung.
Segitu dulu, maaf judulnya gak nyambung.
0 Response to "Catatan Hati Ibunda"
Post a Comment