Yang saya suka dari Wiro, dia itu orangnya happy. Dan kerja rutinnya dari hari ke hari adalah, membuat status jomblo positif dan menghibur. Dengan kreativitas, apapun dianggapnya sebagai dukungan terhadap jomblo. Tidak satu pun lembaga dibangun pemerintah untuk menanggulangi masalah jomblo, tapi Wiro yakin, sebenarnya RSJ itu dibangun buat jomblo. Menurut Wiro, pada mulanya RSJ bukan Rumah sakit Jiwa, tapi Rumah Singgah Jomblo. Dan setiap singkatan yang ada J-nya, baik program pemerintah atau pun lembaga, menurut Wiro itu diadakan sebagai tanda kepedulian masyarakat kepada jomblo.
Misal sekarang ada BPJS, menurutnya itu adalah Badan Penanggulangan Jomblo Stress. Tahun sembilan puluhan ada program buat anak sekolah, Senam Kesegaran Jasmani. Tidak, kata Wiro, sebenarnya itu diperuntukkan buat jomblo, Senam Kesegaran Jomblo. Bagaimana dengan BJ. Habibie? Dengan semangat Wiro menjawab itu presiden RI kedua. Mendengar itu, tiba-tiba sebuah truk menyalip dari arah kiri, sesosok gambar orang tua melambaikan tangan, "Piye kabare. Penak jamanku to.." melihat beliau Wiro langsung sadar, BJ. Habibie presiden RI ketiga.
Parahnya, dari lembaga-lembaga, lama-lama Wiro berpikir buat menggasak dan membajak nama orang. Setiap nama yang ada "Jo" nya sebenarnya itu singkatan dari Jomblo. Joni, Jomblo suka Makaroni. Johan, Jomblo Bertahan. Josep, Jomblo Nyungsep. Ojo, Orang Jomblo. Jonas, Jomblo Na'as. Jonru, Jomblo Rumahan. Jombi, Jomblo Newbie. Jokowi, Presiden NKRI Harga Mati.
Kehabisan singkatan J dan nama orang bersuku kata "Jo", Wiro masih ngeyel, semua singkatan berhuruf "D" dia anggap buat Jomblo. EYD, Eyang Yang Djomblo. DBD, Demam Bersebab Djomblo. SD, Sekolah Djomblo. DKI, Djomblo Keren Indonesia. DPR, Djomblo Perwakilan Rakyat.
Karena pengetahuannya yang luas dan positifnya pandangan dia terhadap status jomblo beserta segala apresiasinya, maka resmilah Wiro dinobatkan sebagai jomblo terakreditasi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "WIRO JOMBLO TERAKREDITASI"
Post a Comment