JULIAN TONI SEORANG PENGGALI SUMUR

Seorang penulis dari padang, hanya penulis di facebook, tapi karyanya telah dibukukan. Saya sangat menghargainya sebab dia pun pandai menghargai tulisan orang lain. Julian Toni nama dia, tidak tahu juga nama sebenarnya. Apakah Juli Antoni atau Julian Toni, tidak tahu. Tak ada urusan penting dengan nama, saya berurusan dengan orangnya.  Saat santai di kafe--kafe yang saya bangun sendiri dengan modal nol rupiah-- yaitu Kafe Curcol, saya mengajukan pertanyaan, "Anda baru saja membaca buku apa?"

Julian menjawab, "101 Dosa Penulis Pemula, Kang. Tapi... nggak sekedar mengulik ilmu di dalamnya doang. Ada sesuatu yang Jul cari di buku ini. Cieee... ini beneran. Buku ini seperti tanah lunak... gali, gali, gali, semakin ada saja yang bisa digali. Sementara ini sekarang fokus ke buku ini dulu."

Membaca komentarnya, saya seperti diingatkan. Memang benar, Pak Isa itu wawasannya luas. Jadi saat berbicara tentang kepenulisan, dia pun akan membicakan banyak hal tanpa menlenceng dari apa yang dibahas. Yang menarik, contoh-contoh yang dikemukakannya adalah sesuatu yang disukai banyak orang: film-film. Buat contoh cerita menarik, ide-ide brilian dia banyak mencontohkan ide-ide cerita film. Baca saja sendiri bukunya. Mengasyikkan.

Memang begitu gaya Pak Isa. Cara menulis dia tak jauh beda dari gaya ngobrolnya. Dalam perjalanan ke gunung puntang, saat mobil ngos-ngosan mendaki, saya malah asyik mendengarkan obrolan Pak Isa. Dia banyak baca, dan bacaannya aneh-aneh. Misalnya dia pernah membaca buku--kalau tidak salah judulnya "1001 Cara Mati". Dia ceritakan ada wanita mancing, trus ada ikan nyangkut, dia tarik keras, ikan melayang, melesak ke mulut. Tidak bisa bernafas dan mati. Trus ada juga seorang yang hendak dihukum mati oleh tiga orang penembak, namun karena tiga orang ini merupakan temannya, senapan mereka tidak diisi dengan peluru, hanya mesiu yang bisa menimbulkan suara ledakan, dan saat senjata itu diledakkan, suara keras terdengar, dan orang itu jatuh, padahal tidak ada peluru yang menembaknya. Hanya karena dia yakin itu senjata ada pelurunya, trus pas meledak dia kaget, langsung meninggal karena serangan jantung.

Yang lebih mengasyikkan dan saya kira, ini menambah keimanan, saat Pak Isa mengatakan, bahwa kita jangan pernah menantang Allah. Karena itu suka kejadian. Banyak sejarah membuktikan. Titanic waktu berangkat nakhodanya sesumbar, "Tuhan Pun Tidak Akan Mampu Menenggelamkan Kapal Ini." eh tenggelam. Trus juga ada kapal Chalengger, itu kan artinya menantang. Eh meledak, langsung kebakaran sebelum sempat terbang. Jadi kita pun gak boleh begitu, gak boleh sok-sokan. Nabi saja ditegor pas janji tidak pake Insya Allah. Kan ada orang nanya, berapa jumlah pemuda Ashabul Kahfi, trus Nabi bilang akan dijawab besok tanpa menyebut insya Allah, langsung turun ayat menegornya.

Obrolan itu berlangsung setelah Pak Isa membaca cerpen-cerpen peserta Kemping Kepenulisan dengan segala kritikan yang ingin dia sampaikan dalam materi nanti. Ya, begitulah Pak Isa kurang lebih. Tulisan atau obrolan sama asyik. Jadi bener Kata Pak Julian, tulisan Pak Isa itu banyak sesuatu di dalamnya jika kita mau menggali.

Jadi kesimpulannya, Julian Toni ternyata seorang penggali sumur.

Related Posts:

0 Response to "JULIAN TONI SEORANG PENGGALI SUMUR"

Post a Comment