Tetes demi tetes air hujan mulai turun. Sebagian membasahi pipiku, bercampur dengan tetes lain yang telah lebih dulu hadir. (Sakinah Bersamamu, hal.118)
Dunia bukan sorga, dunia bukan neraka. Neraka tempat kesusahan sempurna, sorga tempat kebahagiaan sempurna. Di dunia, tidak ada kebahagiaan sempurna, juga tidak ada kesusahan sempurnya. Karena itu jika ada orang menyebut sorga dunia, pada sorga dunia itu ada rasa nerakanya, dan ketika orang menyebut neraka dunia nyaris ada bagian sorgawinya. Karenanya, sebagaimana harus oftimis mengingat dalam kesulitan ada kemudahan, kita pun harus realistis mengingat dalam kemudahan suka ada saja kesulitan.
Yang akan saya sampaikan ini cerita lama. Mungkin Anda pernah dengar atau baca. Tapi kali ini, saya sediki mengubah.Yaitu kisah kakek dengan cucunya yang sangat tampan. Ketika sang cucu berburu ke hutan kemudian tidak kembali ke rumah, orang-orang datang kepada kakek itu dan menyatakan bela sungkawa. Tanggapan dia,"Terima kasih. Tapi saua biasa saja, belum tentu ini kerugian." Dan nyata setelah beberapa hari kemudian, pemuda tampan kembali ke rumah dengan mengendarai kuda jantan gagah.
Orang-orang pun datang ingin tahu sang kakek sekarang sebahagia apa. "Ah saya biasa saja. Belum tentu ini keberuntungan," jawabnya, dan benar saja, saat kuda itu ditunggangi, lari kencang, jatuh, kaki pria si tampan patah, kemudian pincang. Orang-orang kembali ke rumah si kakek mentakan ikut berduka. "Saya biasa saja. Belum tentu ini kerugian." ucap kakek dan memang benar, saat kemudian negaranya mewajibkan perang kepada semua pemuda, si anak muda pincang bebas kewajiban. Usai perang, semua pemuda tak ada yang pulang, gugur, dan orang-orang pun mengerti, benar saja pincangnya sang cucu bukan sebuah kerugian.
Gunung Galunggung meletus jadi musibah bagi Tasikmalaya dan sekitarnya. Ladang sawah hancur begitu pula ternak dan rumah. Tapi ternyata musibah itu lewat. Dari semula musibah, sekarang justru jadi anugerah. Jutaan kubik pasir terjual dan tentu saja ini anugerah.
Pak Agung Pribadi menulis buku "Tak Semua Musibah Itu Luka." Dalam buku lain, beliau pun berbagi pengalaman pribadi dalam tulisan berjudul "Doa Yang Dijawab dengan Musibah." Penasaran bagaimana kisah itu, baca saja buku "Catatan Hati di Setiap Doaku". Ini bukan kisah biasa. Meyakini musibah sebagai jawaban doa bukan perkara mudah. Butuh penerimaan besar dan keyakinan mendalam akan kebijaksanaan Allah yang tak terbatas.
Tiada kesusahan sempurna, tiada kebahagiaan sempurna. Yang pertama supaya jangan putus asa, yang kedua supaya waspada. Seperti kutipan dari buku "Sakinah Bersamamu" yang saya cantumkan di awal: "Tetes demi tetes air hujan mulai turun. Sebagian membasahi pipiku, bercampur dengan tetes lain yang telah lebih dahulu hadir." Kalimat awal bisa menjadi kebahagiaan bagi seorang petani yang sangat menunggu hujan. Namun saat baca kalimat berikutnya, rupanya air hujan bercampur air mata. Hidup ini memang lengkap. Kesempurnaan terletak pada ketidaksempurnaannya. Ada air hujan, ada air mata. Ada mata air, ada air mata. Ada hujan air mata. Ada air mata meminta hujan, ada hujan penyebab air mata.
0 Response to "AIR HUJAN DAN AIR MATA"
Post a Comment