Karya Vera Yuniar Ningrum cukup bagus, mudah diikuti, enak dibaca, dan berkesan. Pembaca mendapatkan sesuatu setelah menyelesaikan cerita. Kesalahan terjadi pada beberapa tempat. Banyak terjadi serangan "nya" dan ada kata yang seharusnya ditulis "ku" tapi di sana ditulis "mu". Di tempat lain, terjadi kalimat kurang lengkap. Di atas segalanya, saya melihat Vera penulis berbakat. Sanggup menyelesaikan tugas, menulis cerita bagus, dalam waktu cukup singkat. 86
Karya Pak Edy Harianto cukup khas dengan cerita silatnya. Beda dari yang lain, Pak Edy tidak berbicara tentang pasangan. Wiro Ingin Jadi Sandal dia olah menjadi cerita tentang Wiro saat ingin berterima kasih kepada Aziz. Beberapa kali dalam bahaya, Aziz menolongnya. Saya mencoba mengkritisi beberapa kalimat berlebihan. Misalnya, "Suara kokok ayam membangunkan Wiro dan Aziz." menurut saya, lebih enak jika kata "suara" dibuang. Kalimat lebih pendek, dan lebih enak dibaca. Begitu juga kalimat lain, terjadi beberapa kalimat panjang yang padahal, jika diperpendek, tidak mengurangi isi kalimat tersebut. Saya berharap Pak Harianto terus semangat menulis. Tema bela diri, terlebih dengan lokalitas kental jarang digarap penulis sekarang. 87
Ova Laela Muttaqiyah hebat dalam lanjaran. Opening dan ending terjadi ketersambungan. Dalam jumlah lembar cukup banyak, sampai sepuluh halaman, dengan huruf lebih kecil dari umumnya, lancar sekali dia menceritakan kisah kreatifitas Wiro dengan sandal bekasnya. Dua jempol saya teracung buat ketekunan Ova menulis. Dalam pembentukan kalimat, Ova cukup mahir dan efektif. Hanya pada beberapa tempat saja--menurut saya-- dia melakukan kelebihan kata. Misal pada kalimat, "Tapi sekeras apa pun usaha yang dilakukan, tetap saja tak bisa berhasil." bisa pada kata ini menurut saya lebih enak hilang. Lebih pendek dan lebih ringan bagi pembaca. 86
Dini Nurhayati, haha, lucu juga kisahnya. Kelebihan tulisan dia adalah membangun karakter. Cukup kuat saat menggambarkan karakter Bosnya yang Si China itu. Cara bicaranya, wataknya, sangat pas dengan perkiraan sebagian besar pembaca tentang seorang Bos China. Saya tersenyum membayangkan kacadelan lidah saat bicara. Bukan hanya secara filosofis, Wiro ingin jadi sandal dia gambarkan dengan tingkah sebenarnya, yaitu Wiro memakai pakaian berbentuk sandal. Hebatnya, kisah ini tak berurusan dengan cinta-cintaan, tapi berkisah mengenai kerja. Dedikasi seorang karyawan kepada perusahaan tempatnya mengabdi, meski bagaimana tak menyenangkannnya sikap atasan. Dari tulisan Dini, saya coba mencari kata yang salah tulis, tapi tidak menemukan. Atau mungkin mata saya yang kurang awas? Entahlah. 89
Dinda Lidya Cahyani menulis dengan awal menarik. Dalam perjalanan menuju kemping kepenulisan Gunung Puntang saya menikmatinya. Mengisahkan Wiro yang selalu kehilangan sandal dan mendapatkan solusi dari Dana, namun solusi yang ditawarkan hanya kembali membuat Wiro mendapatkan petaka. Bagus juga kisahnya, hanya satu hal kurang dari Dinda, jumlah kata tidak mencapai 3000. Sepertinya sudah kelelahan, setelah memenuhi tantangan-tantangan sebelumnya, mungkin inilah saatnya Adinda menyerah. 76
Dalam bayangan, kelima peserta berdiri di panggung. Saya berjalan dari satu orang kepada orang lainnya sambil membawa kalung bergerendel selembar guntingan kardus bertuliskan "SELAMAT JALAN, SEMOGA SELAMAT SAMPAI TUJUAN". Saya perhatikan semua tak siap menerima kalung ini, kecuali seorang: Dinda Lidya Cahyani. "Biar itu buatku saja." ucapnya.
"Baiklah Dinda! Saya hanya bisa mengucapkan selamat." ucap saya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Penilaian Untuk KBMA 2015 Stage 5 Besar"
Post a Comment