KEMATIAN TETAP PELAJARAN TERBAIK

Terpasang banner besar bergambar warna warni melukiskan suasana Korea. Di depan banner itu, berbaris tiga orang penulis. Pak Isa, Mbak Asma dan Pak Boim. Ketiganya menyampaikan semangat kepenulisan, dan setiap pasang mata terfokus dengan hasratnya masing-masing. Saya tidak tahu persis motivasi apa di balik tahannya berdiri mereka sampai dua jam lebih mendengarkan apa yang disampaikan, tapi sebuah terkaan saya buat, pasti sebagian besar penasaran dengan ilmu menulis, ingin seperti Mbak Asma, sukses menjadi seorang penulis yang hidupnya, tampak menyenangkan, ngetop bicara sini sana, dan di rumah--kalau beruntung punya suami pengertian--tidak perlu mencuci dan masak.

Banyak wanita berpendidikan tinggi, berprestasi, namun setelah lulus dengan sederet gelar dan nilai bagus, kesibukan dia malah di dapur, padahal, jika dia menulis, mungkin manfaat pengetahuannya bisa dinikmati jauh lebih banyak orang. Begitu kurang lebih inti dari apa yang Pak Isa sampaikan. Menurutnya, jika memang kesibukan rumah bisa didelegasikan kepada orang lain, kenapa tidak, kemudian seorang ibu menulis untuk memberi manfaat kepada lebih banyak orang. Dan itulah kebijakan Pak Isa buat istrinya.

Mendengar itu, pasti banyak wanita tergiur. Andaikan aku. oh Andaikan aku. Apalagi setelah Mbak Asma ceritakan, jadi penulis itu enak, bisa kerja di rumah, dekat dengan keluarga, bisa mengurus anak, mengawasi langsung perkembangannya dari hari ke hari, sambil tetap mendapatkan uang.

Yang amat disayangkan acara ini sangat mendadak. Pengumuman baru disebar beberapa hari lalu. Lewat social media, instagram, facebook dan twitter. Ada juga kertas kecil, dan baru dibagikan setengah tiga. Saya sendiri bahkan baru membagikan setelah Ashar. Namun mendadak begitupun peserta lumayan membludak. Jika lebih banyak lagi tentu tenpat takkan muat.

Satu hal membekas dari semua materi yang disampaikan adalah, pada saat pria ganteng berkecemata mengajukan pertanyaan, "Bagaimana supaya bisa membangun komintmen dalam menulis?" Pak Isa menjawab, karena saya akan mati, saya merasa pengetahuan yang sekiranya bisa bermanfaat, dan mengalirkan pahala, harus segera saya sampaikan.

Jadi, ternyata tetap, KEMATIAN SELALU MENJADI PELAJARAN TERBAIK.

Related Posts:

0 Response to "KEMATIAN TETAP PELAJARAN TERBAIK"

Post a Comment