"Hai ada peyek ada peyek nih" suara Mbak Dewi heboh sejak dari tangga. Sepotong kepalanya mulai muncul dari balik pegangan tangga. Beberapa anak tangga lagi sampai, dia tengok kanan kiri sambil teriak, "Beli nih beli nih, ada anak-anak jualan!!""Di mana anaknya
?" tanya seseorang entah siapa.
"Di bawah, di toko" maksud mbak Dewi di lantai satu.
"Suruh ke sini, biar dia tahu kantor!" Teriak seorang perempuan Suku Jawa.
Yang segera terbayang oleh saya adalah, seorang anak perempuan, pakai rok selutut, dengan rambut sebahu. Usianya kelas enaman. Maka saat mbak Dewi kembali terjun ke bawah, buat memanggil anak itu, yang saya perkirakan akan muncul nanti adalah sosok anak perempuan bersandal jepit. Imajinsai itu datang tersebab film keluarga cemara. Si Euis di film itu jualan opak, maka saya kira anak perempuan memang cenderung lebih mudah buat diminta berjualan oleh orang tuanya daripada anak laki-laki.
Akan tetapi
"Nah ini anaknya!"
Ternyata yang muncul adalah anak laki-laki. Gemuk badannya, chubby pipinya, kehitaman, mulus, mata sedikit sipit, dengan batang hidung lurus lancip pada bagian ujungnya. Mulutnya itu, seperti habis dicomot, manis sekali.
Di ujung tangga, setelah beberapa langkah, dagangan dia turunkan, dan orang-orang, para teman kerja saya menjadi lalat--mengerubunginya, menanyakan harga dan membeli.
Sepuluh ribu tiga. Masing-masing membeli tiga, dan barangnya hampir habis. Pa Ardiyan bahkan membeli sampai enam. Kagum saya kepada jiwa sosial mereka. Yakin membeli jualan anak ini terutama atas dasar kasihan, dan mungkin sekaligus apresiatif, masih kecil mau berjualan.
"Disuruh siapa jualan seperti ini?"
"Kemauan sendiri"
"Ini siapa peyeknya yang bikin?"
"Ibu"
0 Response to "Seorang Anak Penjual Peyek"
Post a Comment