Fiksi: Lari Pagi

Demi kesehatan, saya lari pagi. Demi kenyaman, memilih rel kereta.
Rel itu dua pasang
Kanan kiri.
Sebagai orang Indonesia yang baik, yang pernah mengikuti penataran pendidikan pancasila dan pernah menghafal beberapa pasal Undang-Undang Dasar 1945, saya berusaha mentaati ketertiban lalu lintas. Maka saya berjalan di sebelah kanan.
Maaf, di sebelah kiri
"Dooooootttt" terdengar klakson kereta. Rupanya dari depan.
Saya terus berjalan.
Toh kereta berjalan di rel kanan. Sedang saya, di rel kiri,
Jadi, santai aja.
Tapi dari depan, terdengar orang teriak membentak, "Woiii!!! Woiii!!" tampak jauh di sana, Seseorang melambaikan tangan, menyuruh nyingkir.
Saya pun turun ke kebun
Ternyata benar, kereta di kiri, tepat di rel kereta tempat saya berjalan.
Tapi, orang itu tetap kurang ajar. Dia berani meneriaki saya,
Saya dendam.
Awas Kamu!!!
Setelah kereta lewat, kembali berjalan cepat, mendekat menuju ke tempat si orang teriak.
Di sana orang banyak.
Tak tahu mana yang mau saya damprat.
Jadi, saya hanya bisa membentak penuh amarah, "Hai, siapa tadi yang meneriaki saya???"
Seorang pria kumis tebal tinggi kerempeng keluar dari warung, "Saya, mau apa?"
"Emh...ini Pak,..saya mau mengucapkan terima kasih! Jika Bapak tak memberitahu, entah saya selamat atau tidak."

Related Posts:

0 Response to "Fiksi: Lari Pagi"

Post a Comment