Mengosongkan diri dari harapan
Mengosongkan diri dari perasaan punya
Mengosongkan diri dari perasaan tahu
Saya tidak menginginkan apapun
Saya tidak mempunyai apapun
Saya tidak mengetahui apapun
Saya tidak menginginkan apapun, tidak menginginkan apa yang ada di tangan orang lain, saya menerima apa yang Allah berikan, saya hanya ingin memenuhi kebutuhan...
Sebab saya sibuk mensyukuri dan memanfaatkan apa yang Allah berikan kepada saya
Saya tidak mempunyai apapun, karenanya sungguh memalukan jika saya pamer dan ingin dipuji
Karenanya sangat memalukan jika saya suka menceritakan kelebihan-kelebihan diri
Karenanya sangat memalukan jika saya terlalu banyak bicara
Karenanya saya harus lebih banyak diam dan berbuat
Saya tidak mempunyai apapun, karenanya apa yang ada di tangan saya hanya titipan, dan tidak perlu sayang saat harus saya serahkan kepada yang membutuhkan, semua ini bukan punya saya.
Orang yang mengosongkan diri dari harapan, akan lebih ringan dalam melangkah, sebab yang dia ingat hanya berbuat dan berbuat dan berbuat tanpa berharap, dan tak pernah takut perbuatannya akan berhasil atau tidak, dia tetap yakin dan semangat sebab yakin perbuatannya sebuah kebenaran, sesuai dengan apa yang sudah dia rencanakan
Orang yang mengosongkan diri dari perasaan tahu, akan lebih banyak mendengar, memperhatikan dan membaca, daripada banyak bicara.
Banyak orang celaka karena terlalu banyak bicara.
Tak pernah usang pepatah yang mengatakan, keselamatan manusia terletak pada kemampuannya menjaga lisan.
Kita sama tidak suka kepada orang yang banyak bicara
Bila orang banyak bicara makan ia akan banyak salahnya, jika banyak salahnya maka akan banyak dosanya, dan jika orang banyak dosanya, tiada tempat yang layak baginya selain neraka.
Orang yang merasa tidak punya apa-apa, tidak akan takut kehilangan, tidak akan pelit saat hartanya harus diinfakkan,
Dia pun tidak akan sombong dengan apa yang dimilikinya.
Senantiasa hidupnya berada dalam ketenangan, sebab yakin, setelah yang hilang, akan datang yang baru yang akan dia dapatkan.
Kehidupan tenang, kehidupan seperti inilah sesungguhnya yang sangat saya dambakan.
Saya ingin sekali hidup tenang sebagaimana tenangnya kehidupan Ibnu Jarir At-Thabary dalam menjalani hari-harinya. Abu Bakar Ahmad bin Kamil Asy-Syajari, murid Ibnu Jarir sekaligus sahabatnya menceritakan, "Apabila telah selesai makan pagi, Ibnu Jarir Ath-Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun beliau mengerjakan Shalat Dzuhur. Lalu menulis artikel hingga waktu Ashar tiba. Kemudian keluar untuk Shalat Ashar. Selanjutnya beliau duduk di majlis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu Maghrib. Setelah itu beliau mengajar fiqh dan pelajaran-pelajaran lainnya sampai masuk Shalat Isya. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat. Tengah malam beliau bangun shalat malam dan mendalami ilmu-ilmunya."
Menurut cerita muridnya, dalam sehari, Ibnu Jarir menulis tidak kurang dari 14 halaman.
Pertama kali membaca kisah Ibnu Jarir ini dari majalaha Tarbawi, dulu. Sekarang terkenang lagi, kisahnya saya temukan lagi di kisahmuslim.com. Sangat menginpirasi. Ingin hidup saya setenang ini. Tapi yakin, saya takkan mendapatkan ketenangan ini jika saya tidak mau mengosongkan diri.
Mengosongkan diri dari keinginan-keinginan dan harapan-harapan.
0 Response to "Mengosongkan Diri"
Post a Comment