Ilmu itu harus manfaat dan kelihatan bekas-bekasnya dalam kehidupan kita.
Tidak ada gunanya membeli buku banyak kalau tidak dibaca.
Tidak ada gunanya juga membaca buku banyak jika ilmunya tidak diterapkan.
Tidak ada gunanya membaca buku, lalu tahu sesuatu baik, namun tidak dilakukan, dan tidak ada gunanya membaca buku, lalu tahu sesuatu buruk, namun masih dikerjakan.
Kita harus bersemangat menjalani kebenaran, sebab kebenaran yang dilakukan penuh hasrat akan menular.
Mengapa sebuah keburukan menular?
Karena keburukan itu dilakukan dengan penuh hasrat, cinta, dan nafsu
Maka kebenaran yang dilakukan penuh cinta, penuh nafsu, penuh hasrat, penuh gairah, sepenuh jiwa, maka kebenaran itu akan menular, dan orang akan melihatnya akan ikut bergairah untuk melakukan kebenaran yang sama.
Ilmu itu harus membekas ke dalam kehidupan kita
Misalnya saya.
Jika saya tahu ilmu kerapihan, mengapa ilmu ini tidak saya bekaskan dalam kehidupan saya.
Rambut misalnya, mengapa saya biarkan acak-acakan, padahal seharusnya saya rapikan.
Atau pakaian, mengapa saya tidak berpikir memperbaiki cara berpakaian?
Sehari-hari saya perhatikan orang lain berpakaian rapi, memperhatikan kepantasan, sedangkan saya asal-asalan. Asal nyangsang, asal menutup, asal berbaju, asal bercelana, asal menutup, bahkan terkadang seringkali bersarung sambil kerja.
Tunda dulu selera beli buku, saya harus mulai memikirkan membeli pakaian.
Atau ruang kerja saya, mengapa saya biarkan berantakan, padahal menurut pengetahuan yang saya punya, tempat kerja nyaman itu bukan yang berantakan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Ilmu Harus Kelihatan Bekas-Bekasnya"
Post a Comment