Kamu Ini Manusia

Ketika bingung bagaimana cara membersihkan semua keburukan dalam diri, saya bertanya kepada seorang Kiai:

"Kamu harus menyadari Kamu ini manusia!" nasihatnya.

Saya terdiam, mencoba mencerna, tapi beberapa biji pengetahuan yang tersisa di otak, setelah terkikis terjangan-terjangan lupa, pengetahuan yang tersisa itu tak cukup buat menafsirkan perkataan Sang Kiai, apa sebenarnya yang dia maksudkan.

"Kenapa terdiam?"

"Saya mencoba memahami Pak Kiai!"

"Bagaimana, sudah faham?"

"Maaf Pak Kiai!"

"Belum?"

"Ya Pak Kiai."

"Baik. Kamu sadar kamu manusia?"

"Sadar Pak Kiai."

"Kalau kamu sadar, saya bertanya lagi, kamu punya apa?"

"Saya punya badan, punya nama, punya pakaian, punya buku, punya pengalaman, sedikit pengetahuan, punya....."

"Cukup! Berarti Kamu belum sadar, diri Kamu manusia."

"Maksudnya Pak?"

"Ya, kamu belum sadar."

"Mengapa Pak Kiai katakan saya belum sadar akan kemanusiaan saya?"

"Karena kamu masih merasa punya. Kamu katakan, kamu punya nama, punya badan, punya pakaian, punya pengalaman, punyan sedikit pengetahuan."

"Jadi Pak?"

"Jika Kamu sadar Kamu manusia, Kamu akan mengatakan, Kamu tidak punya apa-apa."

Saya terdiam. Pak Kiai menunduk, saya ikut menunduk. Dalam hati saya bergumam, mengulang perkataannya: Jika saya sadar saya manusia, saya akan mengatakan, saya tidak punya apa-apa. Lalu apa yang ada pada saya ini punya siapa? Ah, mengapa saya masih mempertanyakan ini? Bukankah saya sudah hafal ayat, "Milik Allah lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi."

Saya mengangkat wajah, tapi Pak Kiai masih menundukkan wajahnya. "Pak Kiai, semua yang ada saya bukan punya saya."

"Jika kesadaran itu sudah terpatri kuat, artinya Kamu benar, Kamu sadar, Kamu manusia. Kesadaran sejati kamu manusialah yang sangat kamu butuhkan supaya mudah membersihkan keburukanmu."

"Maukah Pak Kiai jelaskan lagi mengapa bisa begitu?"

"Pikirkan saja sendiri. Maaf, bukannya saya tidak menghormati tamu, tapi jam empat sore ini saya harus mengisi pengajian."

"Oh ya Pak. Terima kasih atas waktunya. Saya minta diri Pak" ucap saya sembil menyodorkan amplop. Bukan, bukan aplop upah bagai kepada psikolog, ini penghormatan saya, atas ilmunya, bukan membayar harga, sebab harga ilmunya, yakin tidak ternilai, meski, sepanjang perjalanan pulang, kepala saya masih dibantai pertanyaan.

Related Posts:

0 Response to "Kamu Ini Manusia"

Post a Comment