Kebodohan Asma Nadia

Kebodohan Asma Nadia, itulah yang akan saya tuliskan sekarang. Terserah Anda, suka atau tidak, setuju atau tidak, mendukung atau menghujat, atau diam-diam mengutuk di belakang, atau menentang dengan sindiran, terserah, itu hak Anda, itu kebebasan Anda, itu kemerdekaan Anda. Yang jelas sekarang, tak seorang pun bisa menghalang: saya ingin menuliskan kebodohan Asma Nadia. 

Asma Nadia jatuh nama baiknya, bukan urusan saya. Itu urusan dia. Soal nanti dia kehilangan penggemar, karyanya diabaikan orang, terserash. Bukan tanggung jawab saya! Saya jujur apa adanya, tidak dibuat-buat.

Saya hanya ingin jujur apa adanya, apakah itu salah? Bukankah jujur itu sangat dianjurkan? Karenanya saya sarankan, Anda tidak perlulah so peduli, so membela. Lagi pula, kalau membela apa untunya bagi Anda? Tidak ada kan? Jadi saya sarankan, lebih baik diam.

Kebodohan Asma Nadia yang ingin saya sampaikan adalah: Dia itu bodoh masak. Aneh kan? Ibu rumah tangga, rumah tangga lebih dari lima belas tahun lamanya, tapi masih juga bodoh masak. Ini keterlaluan. Harusnya ibu rumah tangga tuh cekatan, bisa mengurus rumah, pandai masak, pandai meracik bumbu enak, biar senang suami dan anak. Ini tidak. Parah!

Bukan kata saya, bukan juga kata orang. Asma sendiri yang berkata. Tertulis jelas dalam bukunya: Catatan Hati Ibunda. Bahkan di bab pertama, dia mengaku dirinya bukan ibu rumah tangga yang baik.

"...ibu rumah tangga yang baik itu pintar masak buat suami. Membuatkan kue ini itu... saya tidak. Jumlah masakan yang saya kuasai tidak sampai lima macam, itu pun dengan bantuan bumbu-bumbu instan. Sementara jenis kue yang bisa saya buat hanya agar-agar dan puding. Lagi-lagi dengan adonan dan fla yang serba instan. Tinggal mencampurnya dengan air, selesai. "

Dia pun mengaku tak pandai merapikan rumah.

"Ibu rumah tangga yang baik umumnya pintar mengurus rumah hingga selalu nyaman dan enak dilihat, terampil beberes. Sementara saya hanya bisa panik dan akhirnya lebih banyak bengong, melihat kondisi rumah yang seperti kapal pecah." (Catatan Hati Ibunda, hal. 3)

Mending jika baru satu dua bulan menikah. 
Lha Asma Nadia?
"...sudah lebih dari 15 tahun berkeluarga? Fhew, rasanya benar-benar keterlaluan."

Sekali lagi, ni fakta. Bukan fitnah. Jadi Anda pencinta karya Asma Nadia tak perlu marah! Dia sendiri yang beberkan dalam bukunya. Dan Anda harus percaya.

Kalau masih juga tidak percaya, buka sendiri bukunya! Baca!

Masih kurang kelihatan, pake kaca pembesar!

Masih belum kelihatan juga, wah itu sih mata Anda yang bermasalah. Kalau sudah begitu, ambil saja pisau! Cungkil! Maksud saya, cungkil saja kelapa, parut, ambil santnnya, terus buat masakan enak. Daripada baca buku tak ada gunanya, mendingan masak.

Ah ngelantur. Maaf!

Kembali ke benang merah. Begitulah faktanya, Asma Nadia tidak pintar masak. Dan jika seseorang dikatakan "tidak pintar", apalagi namanya kalau bukan...

Tapi, sebagai pengusung keadilan--meskipun sering juga saya dzalim--saya pun ingin mengakui kehebatannya. Mengakui dirinya bodoh, tidak pandai masak, bahkan terang-terangan, justru di sinilah kehebatan Asma Nadia. Jujur, begitulah prinsip menulis dia. Hanya sedikit orang sadar, Asma Nadia hebat justru karena apa adanya. Namanya naik tinggi, masuk jajaran wanita inspirastif tahun 2015, justru karena dia tak sungkan merendah, tidak munafik, tidak pura-pura kuat padahal lemah, mengaku bisa padahal bego. Tidak. Dia jujur, dan kejujurannya inilah, keterbukaannya, dan kesukaannya tanpa tedeng aling-aling, menjebol lebar-lebar kecamuk batinnya, kemudian membanjirkannya ke dalam tulisan , yang membuat karya dia senantiasa gurih, dinikmati banyak orang, dan bermanfaat.

Banyak orang berusaha menjadi hebat dengan menghebat-hebatkan dirinya. Menulis banyak hal tentang diri, dan yang dia ceritakan hanya kelebihan. Kekurangan dia sembunyikan, karena mengira dengan cara itu citra dirinya melesat terbang. Dia terus berbangga, terus menyebutkan kelebihan-kelebihannya dengan keyakinan, kebangaan itu bisa memotivasinya untuk mencipta karya terhebat. Namun nyatanya, yang dia dapatkan justru sebaliknya. Bukannya naik, malah semakin rendah, semakin tenggelam.

Kenapa? Sebab sebenarnya, kebanggaan itu batu. Semakin banyak seseorang berbangga, semakin banyak dia bebankan batu ke atas punggungnya. Jika dia berjalan, pasti jalannya semakin lambat. Jika dia naik perahu, lama-lama perahunya tenggelam.

Untuk menjadi hebat, Asma Nadia tak perlu mengaku hebat. Baca sendiri sebagian besar bukunya. Meski menyebutkan kelebihan, itu bukan kelebihan dirinya. Orang yang kenal sudah sudah tahu dia siapa. Orang yang baca karyanya tahu seperti apa kualitas karyanya.

Dengan terbuka menyebutkan kekurangan dirinya, Asma Nadia mengajak para istri berkaca, begitu banyak potensi yang bisa mereka tingkatkan. Dna dengan cerita ini pula, semestinya para suami bersyukur, istri yang mungkin selama ini dia sepelekan, sesungguhnya punya banyak kelebihan.

"Sungguh tulisan ini harus dibaca oleh setiap ibu rumah tangga. Sebab, akan membuat setiap ibu merasa lebih baik dan melihat potensinya lebih tinggi dari seharusnya. Sungguh tulisan ini pun wajib dibaca oleh setiap suami atau bapak rumah tangga. Sehingga karenanya bisa bersyukur dengan pasangan yang dimiliki." tulis Asma.

Benar memang terasa, setelah kisah ini saya baca, kangen kepada istri berpucuk ria. Saya jauh darinya, kerja di kota. Dari ke hari
dia sendirian, siangnya, malamnya, hanya ditemani anak yang kian hari kian nakal. Dia, bisa mengurus anak, mengurus rumah dan bisa masak. Segera saya buka facebook, melihat fotonya.

Related Posts:

0 Response to "Kebodohan Asma Nadia"

Post a Comment